8:03 AM
logikaku tak mampu lagi menjamahmu, dalam lelapku ada dengung yang membuat risih dan menyentak, “BACA BUKU, GOBLOK!”
selamat membaca buku kawan kawan, meski hari buku sudah lewat satu hari..
selamat membaca buku kawan kawan, meski hari buku sudah lewat satu hari..
Semua pernah mengalami krisis. Saya bukan pengecualian, meskipun setiap krisis memiliki makna lain bagi tiap individu, begitu juga saya. Kali ini saya merasa berada di ambang nalar dan rasa saya, nyaris mati, mungkin.. Sebuah konsekuensi logis dari setiap kejadian yang telah saya jejak di belakang. IP nasakom semester lalu, belanja dan menyewa buku gila-gilaan dua bulan ke belakang, dan keengganan memerhatikan kuliah setiap hari. Satu kata: lelah.
Mungkin terbuai karena saya sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir yang membenarkan diri dengan pernyataan, “Gw udah jenuh kuliah, cing!” pola pikir tidak berkembang, hanya kapasitas pemakaian otak yang bertambah karena harus melaksanakan kewajiban terakhir sebelum jadi sarjana: skripsi. Belum skripsi sebenarnya, tapi bulan depan saya harus menghadapi seminar judul skripsi, dan sampai saat saya (justru) menulis post ini, saya stuck di sub bab tiga bab satu saya. Bayangkan, stuck, dan saya baru akan membuat bab satu untuk seminar judul.
Hal-hal di atas tidak diperingan dengan fakta bahwa hari senin depan saya harus menghadapi UTS yang tidak begitu saya pahami pelajarannya. Ketahuilah, nyaris semua mata kuliah yang saya ambil semester ini adalah mata kuliah-mata kuliah yang tidak pernah ingin saya ambil. Kredit minimal mata kuliah lah yang memaksa saya harus memilih yang terbaik di antara yang terburuk. Tidak ada kata mundur, karena orang tua saya sudah berekspektasi cukup besar bahwa semester depan adalah semester terakhir saya berkuliah di Unpar durhaka ini. Oh, dan bahwa di awal bulan ini, ketika saldo atm saya sudah Rp7390,00, dan uang bulanan saya belum dikirim.
Hari-hari belakangan saya hanya ingin tidur, membaca, leyeh-leyeh tanpa tujuan yang jelas, dan menghabiskan waktu kontra produktif dengan ketawa-ketawa di sekre MP. Tapi tidak bisa, ketakutan saya menelantarkan tanggung jawab saya masih mampu meneror ketidak pedulian saya akan dunia, rupanya. Mengetuk cukup kencang, kadang hampir membuat tuli, tapi hanya sekadar menyadarkan saya dari kemalasan saya, dan belum membantu saya menyusun langkah untuk menjalaninya.
Bosan, malas, dan lelah adalah perpaduan keadaan dan rasa yang mengerikan dan bisa menghasilkan krisis. Semacam keadaan yang menghantui saya hari hari belakangan ini. Percayalah, menulis post ini mungkin merupakan kegiatan yang sangat buang-buang waktu dibandingkan mulai menyicil materi UTS senin nanti, namun saya punya keyakinan yang cukup buta, bahwa ketika saya menuliskan ini, tulisan ini membantu saya merasionalisasi keadaan saya, dan pada titik yang cukup ekstrim, membantu saya memahami keadaan diri saya sekarang.
Fakta menggelikan di balik penulisan post ini adalah bahwa saya sedang bosan di kosan, gagal menuliskan paragraf kedua dari sub bab ketiga bab satu saya, beli martabak telor untuk dimakan bersama kawan-kawan mp, dan berakhir dengan mengerjakan sub bab ketiga bab satu saya, dan memakan sendiri martabak telor tadi, karena ternyata kawan-kawan MP (yang juga adalah awak sorgemagz) sedang rapat, dan menulis post ini setelah berhasil menyelesaikan dua paragraf baru di sub bab ketiga bab satu satu saya.
Multitasking, you’re doing it right.
So, i just saw my final score for this semester on unpar student portal, and i could tell you that this semester’s final score is the shitiest scores i’ve ever got, with an even shitier, gpa. Hahahaha.. Ngenes juga sebenarnya, karena inilah kali pertama ip saya hampir menyentuh angka terendah nominal indeks prestasi semester seorang mahasiswa. Yang konyol adalah, betapa kenyataan ini cukup membuat saya kesal, dan nyaris menangis.. Wajar kalian bilang? Buat saya, tidak.
Begini, hampir di setiap waktu, saya selalu meyakinkan diri saya bahwa sistem pendidikan yang (telah) diterapkan di fakultas hukum unpar, tidak pernah memenuhi kebutuhan masyarakat kita, dan bahwa manusia manusia yang sedang berusaha diciptakan oleh fh unpar adalah manusia setengah robot. Artinya, sejauh yang saya yakini sebagai pendidikan yang membebaskan versi paulo freire, fh unpar melenceng cukup jauh dari praktik pembebeasan subjek seperti yang dilakukan dan digagas oleh Freire. Itu saya sadari dan saya yakini betul, sehingga saya tidak pernah merasa keberatan dengan nilai nilai laknat hasil ujian pilihan berganda yang masih populer diberikan oleh dosen dosen fh unpar yang mengaku sudah merasakan pendidikan maju a la Eropa.
Tapi di semester ketujuh saya kuliah di sini, hantaman itu datang juga, nilai saya hancur lebur.. Bahkan untuk mata kuliah mata kuliah yang sudah habis habisan bahannya saya pelajari, tetap mendapat nilai yang tidak lebih baik daripada 60, di mana lima dari sembilan mata kuliah yang saya ambil menggunakan metode pilihan berganda sebagai bentuk ujian akhir, bukannya essay seperti ujian tengah semester kemarin. Dan begitulah, kehancuran saya berlipat ganda dengan dua mata kuliah yang telah saya ambil sebelumnya mendapat nilai yang sama dengan nilai yang ingin saya ubah..
Di tengah kegalauan akademik luar biasa karena nilai nilai nilai yang saya dapat semester ini, saya menyadari beberapa hal penting yang harus saya renungkan betul:
Kuliah itu, sama seperti belajar, tidak terbatas ruang dan waktu, apalagi formalitas angka angka akhir di transkrip nilai saya kelak. I am human, and those scores defines nothing but nothingness, that doesn’t make me less humane.

to fail my agrarian law.

Responden I

Responden II

Responden III

responden III sekalian curhat. hahaha..
Responden IV

Tolong doakan biar saya ga terlalu cepat mati, manceman.. Sebagai seorang pemboros yang tidak diampu, saya selalu kesulitan menahan keinginan untuk jajan di supermarket dan beli martabak beberapa loyang untuk diri sendiri.. :’)
and she call him with the exact same lovey-dovey name you gave him, “ABANG”
WHY DOES THIS HAPPEN TO ME?!
marriage
Hari ini gw kembali dikesalkan oleh fakta bahwa setelah capai capai ambil Semester Pendek dan belajar sebelum ujian, nilai yang berusaha gw ubah justru tidak berubah.

Hukum Dagang dari nilai C ke C. LAGI
Hukum Perdata Internasional dari nilai E ke D. WTF
Kriminologi dari nilai D ke A. IT’S WORTH THE PAIN, AND THANK YOU KARL MARX FOR SAVING MY ASS BACK THEN!
Jadilah gw ngamuk ngamuk di twitter. Orang boleh bilang gw norak, egois, dan kekanak kanakan sesukanya. Karena percaya atau tidak, ini semua berasal dari sebuah sistem yang sudah luar biasa bobrok dan korup. Dan ketika lo berusaha sekuat tenaga untuk melawannya, lo kalah + DIPERMALUKAN.
@lolakaban oke, kali ini gw akan menyampaikan kekesalan terhadap sistem yang ada. bodo amat buat yang mau bilang gw ga bisa nerima nilai2 gw yang jelek
@lolakaban sistem pendidikan yang ada sekarang (di unpar setidaknya) menurut gw telah mengalami degradasi besar besaran.
@lolakaban semua mahasiswanya dibentuk untuk menjadi craftman, atau tukang, atau tenaga ahli, dan bukan manusia
@lolakaban semuanya serba distandarisasi, semuanya serba direduksi. pemaknaan atas intelegensia seseorang hanya sejauh, “Dapat nilai berapa, lo?”
@lolakaban sist pendidikan tinggi hukum (unpar) sudah tidak lagi mengakomodasi nilai yang lebih esensial: kemanusiaan
@lolakaban semua berlomba menjadi pengacara kaya, semua berlomba menjadi ahli hukum bisnis, semua berlomba jadi agen kapitalis
@lolakaban semua diarahkan untuk menjadi seorang yang terasing dari realitanya, orang yang enggan bersentuhan dengan sekitarnya
@lolakaban dibentuk menjadi orang dengan pencapaian PENDAPATAN yang tinggi, dan bukan advokasi terhadap mereka yang tak mampu mendapat akses hukum
@lolakaban sistem sks yang semakin mempersempit ruang belajar kita adalah salah satunya, belum lagi dengan biaya selangit yang bikin pusing
@lolakaban mahasiswa dibentuk menjadi manusia yang praktis, manusia yang hanya peduli pada nilainya, pada “balas dendam” atas jumlah uang yang telah dikeluarkannya selama kuliah
@lolakaban siapa yang mau peduli dengan nasib kaum adat yang tanahnya direbut paksa hanya karena ia tidak punya sertifikat tanah?
@lolakaban padahal tanahnya adalah tanah peninggalan leluhurnya, dan akhirnya ia diusir dari tanahnya sendiri karena tdiak punya setifikat tanah
@lolakaban semua rutinitas kampus yang ada tidak pernah mengakomodasi mahasiswa menjadi pemikir kritis, sebaliknya mahasiswa adalah pemikir praktis
@lolakaban mahasiswa dibuat menjadi makhluk yang beradaptasi dengan lingkungannya, dan bukan makhluk yang berintegrasi
@lolakaban brp banyak mahasiswa yang mau repot repot belajar filsafat hukum dan mendalaminya ketika mata kuliah itu tdk menjamin pendapatannya kelak?
@lolakaban semuanya adalah soal penyelamatan diri dari lubang besar: ketidakmampuan menjadi apa yang dianggap orang hebat
@lolakaban banyak orang yang mau menjadi O C Kaligis, tapi berapa banyak yang rela jadi Munir?
@lolakaban Katakanlah perkataan gw ini egois dan hanya cari aman, tapi akhirnya gw melihat realita yuang lebih buruk lagi: komodifikasi pendidikan
@lolakaban Salahkah saya mengkritisi sistem yang ada?
@lolakaban Krn pada akhirnya, kemanusiaan dan bahkan intelegensia seseorang tdk patut dinilai hanya berdasarkan angka dari hasil ujian pilihan berganda
Tik… tik… tik…
Jarum jam itu masih menari
Satu… satu…
Hoahm! Satu-satu mulai merebah
Lalu resah, dan berlari jengah
Di luar sana hidup
Pikuk dan riuh
Semua berhura, semua bersuka
Tapi di kelas ini, semua berlupa
Ah! Semua berhitung
Tik… tik… tik…
Satu… satu…
Waktu belum beranjak