10:16 PM
10:16 PM
Charity is the humanitarian mask hiding the face of economic exploitation. — Slavoj Zizek
Noam Chomsky Quotes: Noam Chomsky on intellectual property
That’s a very interesting question. It has an interesting history. The World Trade Organization, the Uruguay round that set up the World Trade Organization imposed, it’s called a “free trade agreement”. It’s in fact a highly protectionist agreement. The US is strongly opposed to free trade, just…
3:03 PM
6:56 PM
Radikal
Banyak orang yang selalu menghubungkan tindakan yang disebut radikal dengan sesuatu yang sifatnya destruktif. Contoh:
Orang anarkis tuh radikal banget, sih.. Kerjaannya menghancurkan barang.
Hahahaha.. ini contohnya serba nanggung, sih.. Karena anarkis juga bukannya suka merusak barang, ya.. Orang tukang pukul dan menghancurkan barang tanpa sebab itu bukan anarkis, tapi destruktif dan kasar (contoh: gw). Jadi, FPI itu bukan anarkis. Tolong digarisbawahi, FPI itu bukan anarkis, tapi bigot yang destruktif.
Bahas anarkisnya nanti aja deh, balik ke topik utama.. Gw bicara apa, tadi? Oia, radikal. Jadi, menjadi radikal adalah bukan menjadi orang yang kembali ke akar, karena radikal berangkat dari kata radiks atau akar. Artinya, mengembalikan segala sesuatu ke hakikatnya, ke akarnya.
Jadi orang yang radikal itu bagaimana, ya? Harus jadi orang yang doyan orasi, kah? Jadi orang yang senang konfrontasi, kah? Jadi orang yang suka indoktrinasi, kah? Atau bahkan jadi orang yang judgmental atas radiks, nya? Tidak begitu. Menurut gw, setidaknya.
Gandhi adalah orang yang radikal, Badshah Khan adalah orang yang radikal, Karl Marx orang yang radikal, Zizek orang yang radikal, Munir orang yang radikal, Yesus orang yang radikal, Gus Dur orang yang radikal, dan Bunda Teresa pun orang yang radikal. Semuanya adalah subjek yang berbeda. Ini agak retoris, sebenarnya.. Hahahaha..
Jadi apa yang menjadikan seseorang radikal? Menurut gw pribadi adalah ketika ia atau mereka mampu mengembalikan esensi kemanusiaan itu sendiri. Bahwa manusia bukanlah manusia ketika mereka hanya melakukan adaptasi dengan lingkungan dan keadaan sekitarnya, dan bahwa manusia tidak menghidupi dunia yang telah diberikan, karena setiap individu berdaulat menentukan dan menjadi bagian dari sejarah manusia lainnya!
Kenapa harus bekerja di perusahaan minyak atau tambang milik asing ketika kita sadar betul bahwa keberadaan perusahaan itu justru menghancurkan kehidupan masyarakat (adat) kita? Kenapa harus menjadi corporate lawyer ketika yang membutuhkan advokasi hukum adalah mereka yang tidak mampu mengaksesnya? Kenapa kita harus menjadi pemberi darma (aduh, ini apa ya kata yang tepat? takut misleading deh.. maksudnya kaya filantropis gitu..) ketika kita adalah bagian dari kehancuran masyarakat yang sebenarnya? (lihat video zlavoj zizek: first as tragedy then as farce)
Gandhi tidak tunduk di bawah penjajahan Inggris di India, Marx juga punya kesadaran tinggi mengenai kedok para kapitalis, Yesus memaafkan seorang pelaku zina ketika hukum Yahudi mengharuskan si pezina dirajami sampai mati, Bunda Teresa tidak tinggal diam ketika biaranya menolak keinginannya untuk membantu kaum papa di Kalkuta, dan Badshah Khan tetap melakukan perjuangan tanpa perang di Afghanistan.Itulah radikal! Itulah menjadi radikal! Bukan hanya sekadar merusak barang karena ada orang yang dianggap tidak mengidupi radiks nya, atau memaki dan bahkan mempermalukannya.
Menjadi radikal lah, tapi dengan lebih dahulu membangun kesadaran mengenai, apakah yang kita hidupi ini adalah realita kita? Atau hanya bentukan sekelompok orang semata? Carilah akar kita, kembalilah ke akar: Manusia.
9:39 AM
6:35 PM
Tentang Tuhan
Saya berbicara tentang Tuhan beberapa waktu yang lalu, dengan bang eko. Topik tentang Tuhan dan dengan lawan bicara yang adalah bang eko, cukup unik sebenarnya, mengingat bang eko adalah orang yang sudah lama meninggalkan sesuatu yang kerap disebutnya religio-magis, dan cenderung diyakininya sebagai sesuatu yang metafisik. Bang eko adalah seorang materialis. Lihat keanehannya?
Jadi di sanalah kami, mencoba menalar sang maha yang transenden itu. Hal yang mustahil sebenarnya, karena kalau Dia mampu dinalar sebatas rasionalitas manusia, Dia akan kehilangan esensi ketuhanannya. Tapi rasa rasanya Dia tak keberatan dengan apa yang sering kami sebut dengan kontemplasi.
Berangkat dari kegelisahan orang orang terdekat kami yang mengecewakan karena selalu terlalu fokus kepada apa yang mereka sebut: keimanan. Bentuk paling abstrak dari keyakinan kita terhadap Tuhan, dan seringkali disalahartikan dengan, lebih baik beriman dan diam, dibanding melakukan sesuatu tanpa iman. Saya lebih memilih menjadi orang samaria yang baik hati. Bingung?
Banyak orang yang (mengklaim dirinya) beriman lebih senang duduk diam dan “mengadu” kepada Tuhannya. Ketika mereka tahu bahwa ada sebuah bencana tsunami di Pulau Fiji, mereka mengirimkan bantuan: Alkitab. Ketika terjadi bencana kelaparan di Yahukimo, mereka berpuasa dan berdoa. Mereka menganggap bahwa itulah yang korban butuhkan: Alkitab dan bukannya selimut, obat-obatan, dan bahan pangan, serta Doa dan Puasa dan bukannya Bahan pangan yang cukup.
Mereka begitu mengagunggkan Dia Yang Mahabesar, tapi lupa bahwa Yang Mahabesar juga butuh perpanjangan tangan dalam bentuk yang lebih material dan memiliki rasionalitas cukup untuk menyadari bahwa manusia lah yang harus menjadi jawaban bagi manusia lainnya. Dia menjamah hal hal yang tak bisa dinalar manusia, dan memberikan bantuan berupa obat obatan bukan sesuatu yang di luar nalar manusia.
Lalu kami berbicara mengenai betapa pemaknaan Alkitab menjadi sesuatu yang biner. Hanya ada baik-buruk, benar-salah, dan dengan legitimasi bahwa mereka telah menyelesaikan Alkitab dari kitab Kejadian hingga Wahyu, mereka merasa bisa mengklaim yang lain adalah kafir. Mereka menjadi hakim atas sesamanya, dan mereka lupa bahwa Firman Tuhan melampaui apa yang mereka yakini sebagai benar: pemutlakan atas Firman Tuhan sebagai sesuatu yang biner.
Inilah yang seringkali dilupakan manusia (yang mengklaim dirinya) beriman, bahwa ketika Firman Tuhan itu berhasil dipositifkan dengan suatu yang sudah jelas batasannya, ia tidak lagi menjadi Firman Tuhan, karena ternyata manusia yang berhasil menjadikannya sebuah kitab dengan isi yang mutlak dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Konteks perdebatan di sini lebih kepada dialektika. Ketika seseorang berani mempertanyakan mengapa seseorang harus mengimani sesuatu, harusnya pertanyaan itu dapat dijawab, dan bukannya berlindung pada dogma keimanan bahwa seseorang yang mempertanyakannya adalah sesat.
Keimanan kepada Tuhan bukanlah dogma, ia akan membentuk dialektikanya dengan melihat teks yang dari Tuhan dengan konteks realitanya. Benarkah Tuhan membenci orang gay? Benarkah Tuhan membenci mereka yang katanya ateis tapi mampu memberikan harapan hidup kepada sesamanya? Benarkah Tuhan memasukkan orang gila yang tidak pernah mengetahui-Nya apalagi Mengimani-Nya ke dalam neraka ketika ia meninggal? Benarkah?
Saya dan bang eko mencapai sebuah kesimpulan, bahwa Tuhan dan Firman-Nya tidak bisa hanya dimaknai sebagai sesuatu yang hitam putih, dan tidak pernah pantas rasanya kita menuding orang lain sebagai tidak beriman hanya karena ia tidak melaksanakan ritual keagamaannya secara kontinu. Tuhan bukan dogma, begitu juga agama, jadi berhenti memberikan batasan kaku yang hanya berhak diberikan oleh Tuhan sendiri.
7:23 PM
Tentang Perempuan
Perempuan hebat ya, dek.. Mereka sudah terbiasa membagi hidup dengan yang lain. Coba lihat perempuan hamil, mereka membagi hidup dengan janinnya. Secara bilogis, perempuan sudah mampu membagi dirinya, dan hal itu memengaruhinya secara psikologis, perempuan jauh lebih mampu berbagi dibanding laki-laki.
Sosialisme dan hidup komunal paling bisa dilanggengkan oleh perempuan.
— Eko Haridani Sembiring
Pada dasarnya semua laki-laki memiliki sifat keperempuanan, terlebih jika kita berkiblat pada ekofeminisme, karena sebelum kromosom y masuk, semua janin berawal dari komposisi kromosom xx. Jadi sebenarnya, semua manusia memiliki sifat perempuan, sedangkan laki-laki mengonstuksi sifatnya berdasarkan negasi dari sifat perempuan.
Jadi, tidak ada laki-laki yang bersifat keperempuan-perempuanan, karena apa yang dimaksud dengan sifat keperempuan-perempuanan adalah sebuah bentuk aktualisasi diri yang alamiah dari apa yang sudah dimiliki oleh laki-laki. Yang mungkin ada adalah perempuan yang bersifat kelaki-lakian, karena ia menyerap konstruksi sosial mengenai lelaki, dan menginternalisasinya sebagai nilai di luar dirinya.
11:07 PM
