8:03 AM
logikaku tak mampu lagi menjamahmu, dalam lelapku ada dengung yang membuat risih dan menyentak, “BACA BUKU, GOBLOK!”
selamat membaca buku kawan kawan, meski hari buku sudah lewat satu hari..
selamat membaca buku kawan kawan, meski hari buku sudah lewat satu hari..
So, i just saw my final score for this semester on unpar student portal, and i could tell you that this semester’s final score is the shitiest scores i’ve ever got, with an even shitier, gpa. Hahahaha.. Ngenes juga sebenarnya, karena inilah kali pertama ip saya hampir menyentuh angka terendah nominal indeks prestasi semester seorang mahasiswa. Yang konyol adalah, betapa kenyataan ini cukup membuat saya kesal, dan nyaris menangis.. Wajar kalian bilang? Buat saya, tidak.
Begini, hampir di setiap waktu, saya selalu meyakinkan diri saya bahwa sistem pendidikan yang (telah) diterapkan di fakultas hukum unpar, tidak pernah memenuhi kebutuhan masyarakat kita, dan bahwa manusia manusia yang sedang berusaha diciptakan oleh fh unpar adalah manusia setengah robot. Artinya, sejauh yang saya yakini sebagai pendidikan yang membebaskan versi paulo freire, fh unpar melenceng cukup jauh dari praktik pembebeasan subjek seperti yang dilakukan dan digagas oleh Freire. Itu saya sadari dan saya yakini betul, sehingga saya tidak pernah merasa keberatan dengan nilai nilai laknat hasil ujian pilihan berganda yang masih populer diberikan oleh dosen dosen fh unpar yang mengaku sudah merasakan pendidikan maju a la Eropa.
Tapi di semester ketujuh saya kuliah di sini, hantaman itu datang juga, nilai saya hancur lebur.. Bahkan untuk mata kuliah mata kuliah yang sudah habis habisan bahannya saya pelajari, tetap mendapat nilai yang tidak lebih baik daripada 60, di mana lima dari sembilan mata kuliah yang saya ambil menggunakan metode pilihan berganda sebagai bentuk ujian akhir, bukannya essay seperti ujian tengah semester kemarin. Dan begitulah, kehancuran saya berlipat ganda dengan dua mata kuliah yang telah saya ambil sebelumnya mendapat nilai yang sama dengan nilai yang ingin saya ubah..
Di tengah kegalauan akademik luar biasa karena nilai nilai nilai yang saya dapat semester ini, saya menyadari beberapa hal penting yang harus saya renungkan betul:
Kuliah itu, sama seperti belajar, tidak terbatas ruang dan waktu, apalagi formalitas angka angka akhir di transkrip nilai saya kelak. I am human, and those scores defines nothing but nothingness, that doesn’t make me less humane.

you should watch your back, cause i’m full of grudge