20-nothing, messy and spontaneous. i live my life as i wish
March 24th
1:26 AM

lalu ada denting yang mengusik hening, mungkin karena terbiasa dengan bingar, ia jadi jengah

rupanya kabar yang tak terdengar telinga, dan terbaca mata lebih menjemukan daripada sejuta gelak tawa yang dibagi bersama

March 15th
4:09 PM

Tentang Perkawinan

Tidak pernah ada yang salah dengan keinginan menjadi ibu rumah tangga. Tidak, karena saya mensyukuri pula memiliki ibu yang masih bisa memberikan saya bekal hingga saya duduk di Sekolah Menengah Atas, dan tidak pula karena saya mensyukuri punya ibu yang bisa memeluk saya ketika saya gagal masuk universitas idaman sebelum pergi sermon ke gereja. Saya mensyukuri punya ibu yang ibu rumah tangga ketika saya tahu ibu saya bahagia dengan pilihan pilihan hidupnya.

Setidaknya begitu sampai suatu hari ibu saya berucap, “Kamu sekolah yang tinggi La, mama ga pernah diizinkan papa sekolah atau berkegiatan sejak kamu dan bang haga masuk SD.”

Dengan pemahaman saya yang pas-pasan kala itu, saya hanya menanggapinya dengan kebingungan. Kebingungan mengenai konsep istri yang tidak lagi bisa mengembangkan dirinya karena suaminya menyatakan demikian, mengenai konsep ibu yang terikat dengan anak-anaknya sehingga ia tidak berani lagi bermimpi dan terpaksa menitipkan mimpinya kepada anak perempuannya, serta tentang konsep perempuan yang tidak lagi mampu menentukan dirinya ketika ia telah terikat dalam lembaga perkawinan.

Awalnya saya selalu menganggap bahwa hal-hal semacam itu adalah lumrah, karena perkawinan pasti memakan korban, dan biasanya perempuan. Tapi setelah saya memahami diskursus yang ada dan berlaku, saya menjadi yakin betul bahwa apa yang dialami ibu saya sebagai sebuah konstruksi sosial yang telah membudaya. Ibu saya besar di Jakarta, ia mengetahui bagaimana kehidupan dan pergaulan di Jakarta, ia mengaku dirinya cukup modern dan berpikiran luas, tapi ia tidak mampu berpikir luas ketika ia diperhadapkan dengan permasalahan yang juga dialami banyak perempuan lain, bahkan yang telah tinggal di kota besar sekalipun: Perkawinan.

Makin jelas saya melihat bahwa perkawinan sering kali justru menjadi penghalang bagi perempuan untuk memahami eksistensinya dalam realita sebagai unit utuh dalam sebuah masyarakat. Perempuan sering kali diasingkan di dalam rumah, di balik kompor, di dalam kamar tidur, atau di ruang keluarga, dan akan semakin terpuruk ketika kita sadar bahwa kita harus mengikuti suami kita karena kita tidak memiliki posisi tawar dalam hal ekonomi. Kalaupun ada, jika kita tidak menyadari bahwa diri kita adalah juga individu bebas yang secara suka rela masuk ke dalam lembaga perkawinan, kita akan tetap berada dalam diskursus yang sama yang telah membelenggu Kartini lebih dari seratus tahun yang lalu.

Saya tidak kawin (atau gunakan kata “belum” jika kata ini dianggap lebih permisif dan tidak terlalu fatalistik), dan saya hanya mampu mengurai realita perkawinan dari pengalaman ibu saya, dan perempuan-perempuan lain yang telah kawin dan terjebak dalam wacana kultur patriarkis yang dominan. Tapi ketahuilah, bagi saya perkawinan itu bukan kewajiban yang harus dipenuhi oleh siapapun apalagi perempuan, dan perkawinan itu bukan soal dominasi siapa yang lebih besar di dalamnya, dan tentu saja perkawinan itu tidak harus menghasilkan keturunan, karena jika dua individu benar-benar membebaskan dirinya dalam lembaga perkawinan, belum tentu segala tetek bengek mengenai keluarga ideal yang selama ini dicekoki kepada kita akan dilanggengkan terus menerus.

Jika perkawinan tidak berakhir menjadi unit yang membebaskan manusia yang ada di dalamnya, maka percayalah generasi yang dihasilkan akan tetap terkorup oleh wacana dominasi patriarkis yang akan tetap mencari celah untuk mendapat legitimasi, di dalam keluarga sekalipun. Bukan, TERUTAMA dalam keluarga.

March 1st
10:30 PM

Krisis

Semua pernah mengalami krisis. Saya bukan pengecualian, meskipun setiap krisis memiliki makna lain bagi tiap individu, begitu juga saya. Kali ini saya merasa berada di ambang nalar dan rasa saya, nyaris mati, mungkin.. Sebuah konsekuensi logis dari setiap kejadian yang telah saya jejak di belakang. IP nasakom semester lalu, belanja dan menyewa buku gila-gilaan dua bulan ke belakang, dan keengganan memerhatikan kuliah setiap hari. Satu kata: lelah.

Mungkin terbuai karena saya sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir yang membenarkan diri dengan pernyataan, “Gw udah jenuh kuliah, cing!” pola pikir tidak berkembang, hanya kapasitas pemakaian otak yang bertambah karena harus melaksanakan kewajiban terakhir sebelum jadi sarjana: skripsi. Belum skripsi sebenarnya, tapi bulan depan saya harus menghadapi seminar judul skripsi, dan sampai saat saya (justru) menulis post ini, saya stuck di sub bab tiga bab satu saya. Bayangkan, stuck, dan saya baru akan membuat bab satu untuk seminar judul.

Hal-hal di atas tidak diperingan dengan fakta bahwa hari senin depan saya harus menghadapi UTS yang tidak begitu saya pahami pelajarannya. Ketahuilah, nyaris semua mata kuliah yang saya ambil semester ini adalah mata kuliah-mata kuliah yang tidak pernah ingin saya ambil. Kredit minimal mata kuliah lah yang memaksa saya harus memilih yang terbaik di antara yang terburuk. Tidak ada kata mundur, karena orang tua saya sudah berekspektasi cukup besar bahwa semester depan adalah semester terakhir saya berkuliah di Unpar durhaka ini. Oh, dan bahwa di awal bulan ini, ketika saldo atm saya sudah Rp7390,00, dan uang bulanan saya belum dikirim.

Hari-hari belakangan saya hanya ingin tidur, membaca, leyeh-leyeh tanpa tujuan yang jelas, dan menghabiskan waktu kontra produktif dengan ketawa-ketawa di sekre MP. Tapi tidak bisa, ketakutan saya menelantarkan tanggung jawab saya masih mampu meneror ketidak pedulian saya akan dunia, rupanya. Mengetuk cukup kencang, kadang hampir membuat tuli, tapi hanya sekadar menyadarkan saya dari kemalasan saya, dan belum membantu saya menyusun langkah untuk menjalaninya.

Bosan, malas, dan lelah adalah perpaduan keadaan dan rasa yang mengerikan dan bisa menghasilkan krisis. Semacam keadaan yang menghantui saya hari hari belakangan ini. Percayalah, menulis post ini mungkin merupakan kegiatan yang sangat buang-buang waktu dibandingkan mulai menyicil materi UTS senin nanti, namun saya punya keyakinan yang cukup buta, bahwa ketika saya menuliskan ini, tulisan ini membantu saya merasionalisasi keadaan saya, dan pada titik yang cukup ekstrim, membantu saya memahami keadaan diri saya sekarang.

Fakta menggelikan di balik penulisan post ini adalah bahwa saya sedang bosan di kosan, gagal menuliskan paragraf kedua dari sub bab ketiga bab satu saya, beli martabak telor untuk dimakan bersama kawan-kawan mp, dan berakhir dengan mengerjakan sub bab ketiga bab satu saya, dan memakan sendiri martabak telor tadi, karena ternyata kawan-kawan MP (yang juga adalah awak sorgemagz) sedang rapat, dan menulis post ini setelah berhasil menyelesaikan dua paragraf baru di sub bab ketiga bab satu satu saya.

Multitasking, you’re doing it right.

January 8th
11:42 PM

Lesson Learned!

So, i just saw my final score for this semester on unpar student portal, and i could tell you that this semester’s final score is the shitiest scores i’ve ever got, with an even shitier, gpa. Hahahaha.. Ngenes juga sebenarnya, karena inilah kali pertama ip saya hampir menyentuh angka terendah nominal indeks prestasi semester seorang mahasiswa. Yang konyol adalah, betapa kenyataan ini cukup membuat saya kesal, dan nyaris menangis.. Wajar kalian bilang? Buat saya, tidak.

Begini, hampir di setiap waktu, saya selalu meyakinkan diri saya bahwa sistem pendidikan yang (telah) diterapkan di fakultas hukum unpar, tidak pernah memenuhi kebutuhan masyarakat kita, dan bahwa manusia manusia yang sedang berusaha diciptakan oleh fh unpar adalah manusia setengah robot. Artinya, sejauh yang saya yakini sebagai pendidikan yang membebaskan versi paulo freire, fh unpar melenceng cukup jauh dari praktik pembebeasan subjek seperti yang dilakukan dan digagas oleh Freire. Itu saya sadari dan saya yakini betul, sehingga saya tidak pernah merasa keberatan dengan nilai nilai laknat hasil ujian pilihan berganda yang masih populer diberikan oleh dosen dosen fh unpar yang mengaku sudah merasakan pendidikan maju a la Eropa.

Tapi di semester ketujuh saya kuliah di sini, hantaman itu datang juga, nilai saya hancur lebur.. Bahkan untuk mata kuliah mata kuliah yang sudah habis habisan bahannya saya pelajari, tetap mendapat nilai yang tidak lebih baik daripada 60, di mana lima dari sembilan mata kuliah yang saya ambil menggunakan metode pilihan berganda sebagai bentuk ujian akhir, bukannya essay seperti ujian tengah semester kemarin. Dan begitulah, kehancuran saya berlipat ganda dengan dua mata kuliah yang telah saya ambil sebelumnya mendapat nilai yang sama dengan nilai yang ingin saya ubah..

Di tengah kegalauan akademik luar biasa karena nilai nilai nilai yang saya dapat semester ini, saya menyadari beberapa hal penting yang harus saya renungkan betul:

  1. Shit happens all the time, and it sure is a pain in the ass
  2. Bahwa godaan untuk mengikuti standar yang ada adalah sangat besar: saya menjadi sangat kesal karena tidak memenuhi standar nilai reduksionis yang telah mapan
  3. Bahwa kuliah di unpar itu benar benar mahal dan tidak mendidik, jadi cobalah untuk tetap mencari tempat kuliah lain di komunitas komunitas setempat
  4. Bahwa saya bertanggung jawab atas nilai nilai saya semester ini
  5. Dan saya siap memberikan diri saya pada kegiatan lain di luar kegiatan perkuliahan yang membantu saya menjadi lebih manusiawi.

Kuliah itu, sama seperti belajar, tidak terbatas ruang dan waktu, apalagi formalitas angka angka akhir di transkrip nilai saya kelak. I am human, and those scores defines nothing but nothingness, that doesn’t make me less humane.

January 2nd
5:02 PM
ketahuan :|

ketahuan :|

December 5th
9:53 PM
"Orang tua akan jadi orang tua, ketika anaknya bertumbuh tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Vice versa"
—  lola (ketika berbicara tentang masa depan dengan mama)
August 28th
10:23 AM

i’m a pretty good liar, btw

i know i shouldn’t brag about it, but i don’t have any other achievement, so yeah..

August 26th
11:33 PM
"Terima kasih tim Mahitala Unpar karena telah membuat saya yakin bahwa mendaki gunung ga berarti langsung mati seperti yang mama saya kira"
—  lola (mengomentari keberhasilan Tim Mahitala Unpar mendaki 7 Summits)
August 17th
7:05 AM

Combo

  • girl: i love it when you're helpless
  • boy: yeah, and i love it when you're stronger
August 9th
2:03 PM
"banyak orang yang mau menjadi O C Kaligis, tapi berapa banyak yang rela jadi Munir?"
—  lola
2:01 PM

Nilai

Hari ini gw kembali dikesalkan oleh fakta bahwa setelah capai capai ambil Semester Pendek dan belajar sebelum ujian, nilai yang berusaha gw ubah justru tidak berubah.

Hukum Dagang dari nilai C ke C. LAGI

Hukum Perdata Internasional dari nilai E ke D. WTF

Kriminologi dari nilai D ke A. IT’S WORTH THE PAIN, AND THANK YOU KARL MARX FOR SAVING MY ASS BACK THEN!

Jadilah gw ngamuk ngamuk di twitter. Orang boleh bilang gw norak, egois, dan kekanak kanakan sesukanya. Karena percaya atau tidak, ini semua berasal dari sebuah sistem yang sudah luar biasa bobrok dan korup. Dan ketika lo berusaha sekuat tenaga untuk melawannya, lo kalah + DIPERMALUKAN.

@lolakaban oke, kali ini gw akan menyampaikan kekesalan terhadap sistem yang ada. bodo amat buat yang mau bilang gw ga bisa nerima nilai2 gw yang jelek

@lolakaban sistem pendidikan yang ada sekarang (di unpar setidaknya) menurut gw telah mengalami degradasi besar besaran.

@lolakaban semua mahasiswanya dibentuk untuk menjadi craftman, atau tukang, atau tenaga ahli, dan bukan manusia

@lolakaban semuanya serba distandarisasi, semuanya serba direduksi. pemaknaan atas intelegensia seseorang hanya sejauh, “Dapat nilai berapa, lo?”

@lolakaban sist pendidikan tinggi hukum (unpar) sudah tidak lagi mengakomodasi nilai yang lebih esensial: kemanusiaan

@lolakaban semua berlomba menjadi pengacara kaya, semua berlomba menjadi ahli hukum bisnis, semua berlomba jadi agen kapitalis

@lolakaban semua diarahkan untuk menjadi seorang yang terasing dari realitanya, orang yang enggan bersentuhan dengan sekitarnya

@lolakaban dibentuk menjadi orang dengan pencapaian PENDAPATAN yang tinggi, dan bukan advokasi terhadap mereka yang tak mampu mendapat akses hukum

@lolakaban sistem sks yang semakin mempersempit ruang belajar kita adalah salah satunya, belum lagi dengan biaya selangit yang bikin pusing

@lolakaban mahasiswa dibentuk menjadi manusia yang praktis, manusia yang hanya peduli pada nilainya, pada “balas dendam” atas jumlah uang yang telah dikeluarkannya selama kuliah

@lolakaban siapa yang mau peduli dengan nasib kaum adat yang tanahnya direbut paksa hanya karena ia tidak punya sertifikat tanah?

@lolakaban padahal tanahnya adalah tanah peninggalan leluhurnya, dan akhirnya ia diusir dari tanahnya sendiri karena tdiak punya setifikat tanah

@lolakaban semua rutinitas kampus yang ada tidak pernah mengakomodasi mahasiswa menjadi pemikir kritis, sebaliknya mahasiswa adalah pemikir praktis

@lolakaban mahasiswa dibuat menjadi makhluk yang beradaptasi dengan lingkungannya, dan bukan makhluk yang berintegrasi

@lolakaban brp banyak mahasiswa yang mau repot repot belajar filsafat hukum dan mendalaminya ketika mata kuliah itu tdk menjamin pendapatannya kelak?

@lolakaban semuanya adalah soal penyelamatan diri dari lubang besar: ketidakmampuan menjadi apa yang dianggap orang hebat

@lolakaban banyak orang yang mau menjadi O C Kaligis, tapi berapa banyak yang rela jadi Munir?

@lolakaban Katakanlah perkataan gw ini egois dan hanya cari aman, tapi akhirnya gw melihat realita yuang lebih buruk lagi: komodifikasi pendidikan

@lolakaban Salahkah saya mengkritisi sistem yang ada?

@lolakaban Krn pada akhirnya, kemanusiaan dan bahkan intelegensia seseorang tdk patut dinilai hanya berdasarkan angka dari hasil ujian pilihan berganda