1:43 PM
1:43 PM
6:56 PM
Radikal
Banyak orang yang selalu menghubungkan tindakan yang disebut radikal dengan sesuatu yang sifatnya destruktif. Contoh:
Orang anarkis tuh radikal banget, sih.. Kerjaannya menghancurkan barang.
Hahahaha.. ini contohnya serba nanggung, sih.. Karena anarkis juga bukannya suka merusak barang, ya.. Orang tukang pukul dan menghancurkan barang tanpa sebab itu bukan anarkis, tapi destruktif dan kasar (contoh: gw). Jadi, FPI itu bukan anarkis. Tolong digarisbawahi, FPI itu bukan anarkis, tapi bigot yang destruktif.
Bahas anarkisnya nanti aja deh, balik ke topik utama.. Gw bicara apa, tadi? Oia, radikal. Jadi, menjadi radikal adalah bukan menjadi orang yang kembali ke akar, karena radikal berangkat dari kata radiks atau akar. Artinya, mengembalikan segala sesuatu ke hakikatnya, ke akarnya.
Jadi orang yang radikal itu bagaimana, ya? Harus jadi orang yang doyan orasi, kah? Jadi orang yang senang konfrontasi, kah? Jadi orang yang suka indoktrinasi, kah? Atau bahkan jadi orang yang judgmental atas radiks, nya? Tidak begitu. Menurut gw, setidaknya.
Gandhi adalah orang yang radikal, Badshah Khan adalah orang yang radikal, Karl Marx orang yang radikal, Zizek orang yang radikal, Munir orang yang radikal, Yesus orang yang radikal, Gus Dur orang yang radikal, dan Bunda Teresa pun orang yang radikal. Semuanya adalah subjek yang berbeda. Ini agak retoris, sebenarnya.. Hahahaha..
Jadi apa yang menjadikan seseorang radikal? Menurut gw pribadi adalah ketika ia atau mereka mampu mengembalikan esensi kemanusiaan itu sendiri. Bahwa manusia bukanlah manusia ketika mereka hanya melakukan adaptasi dengan lingkungan dan keadaan sekitarnya, dan bahwa manusia tidak menghidupi dunia yang telah diberikan, karena setiap individu berdaulat menentukan dan menjadi bagian dari sejarah manusia lainnya!
Kenapa harus bekerja di perusahaan minyak atau tambang milik asing ketika kita sadar betul bahwa keberadaan perusahaan itu justru menghancurkan kehidupan masyarakat (adat) kita? Kenapa harus menjadi corporate lawyer ketika yang membutuhkan advokasi hukum adalah mereka yang tidak mampu mengaksesnya? Kenapa kita harus menjadi pemberi darma (aduh, ini apa ya kata yang tepat? takut misleading deh.. maksudnya kaya filantropis gitu..) ketika kita adalah bagian dari kehancuran masyarakat yang sebenarnya? (lihat video zlavoj zizek: first as tragedy then as farce)
Gandhi tidak tunduk di bawah penjajahan Inggris di India, Marx juga punya kesadaran tinggi mengenai kedok para kapitalis, Yesus memaafkan seorang pelaku zina ketika hukum Yahudi mengharuskan si pezina dirajami sampai mati, Bunda Teresa tidak tinggal diam ketika biaranya menolak keinginannya untuk membantu kaum papa di Kalkuta, dan Badshah Khan tetap melakukan perjuangan tanpa perang di Afghanistan.Itulah radikal! Itulah menjadi radikal! Bukan hanya sekadar merusak barang karena ada orang yang dianggap tidak mengidupi radiks nya, atau memaki dan bahkan mempermalukannya.
Menjadi radikal lah, tapi dengan lebih dahulu membangun kesadaran mengenai, apakah yang kita hidupi ini adalah realita kita? Atau hanya bentukan sekelompok orang semata? Carilah akar kita, kembalilah ke akar: Manusia.
10:08 PM
Tentang Realita
Realita.
Apa itu realita? Sesuatu yang bersifat empiris, kah? Sesuatu yang bisa dicapai hanya oleh indera, kah? Atau sesuatu yang justru tak tertangkap oleh indera, dan hanya bisa dilampaui oleh rasio, untuk kemudian diwujudkan dalam aksi? Apa itu realita?
Saya baru menyadarinya hari ini, ketika saya berdiskusi dengan bang eko mengenai apa itu realita, ia memberikan gambaran mengenai konsep realita melalui kacamata Marxisme. Saya sama sekali belum mempelajari pemikiran Marx secara utuh. Dibandingkan dengan bang eko yang sudah membaca buku kapital jilid I - III bahkan hingga kritik atas marxisme dari para filsuf new left, saya jelas bukan lawan bicara yang sepadan dengannya. Tapi saya memutuskan untuk tetap mempertanyakan, apa itu realita.
Bang eko bilang bahwa realita dalam konteks marxisme adalah keadaan buruh yang sebenarnya mandiri, tapi kemudian dikooptasi, sehingga muncullah keadaan baru yang diciptakan oleh para kapitalis, sehingga seolah-olah para buruh membutuhkan peran para pemilik modal dalam menjalankan hidupnya. Sebuah manipulasi yang terstruktur mengenai apa itu realita, padahal sebenarnya bukan para buruh lah yang bergantung pada para kapitalis, para kapitalis lah yang bergantung pada para buruh.
Bingung, ya? Saya juga bingung, karena konsep realita yang dikatakan bang eko atas dasar pemikiran marxisme sangat tidak menjawab. Jadi saya berusaha mencari jawabannya melalui pemikiran Paulo Freire. Menurut Freire, menjadi manusia adalah soal bagaimana seseorang tidak hanya menjadi penonton dari sebuah keadaan yang seolah-olah telah diwahyukan untuk terjadi, dan menjadi percaya bahwa manusia bawah (digambarkan sebagai basic oleh Marx, dan kapitalis sebagai suprastructure) tidak memiliki kekuatan untuk menjadi bagian dari sebuah keadaan. Artinya, seseorang harus memiliki kesadaran kritis bahwa keadaan yang ada bukanlah sesuatu yang mutlak, dan sangat dimungkinkan terjadinya perubahan yang evolutif, maupun yang revolutif.
Sampailah saya pada kesimpulan bahwa konteks realita yang selalu digaungkan oleh Marx adalah realita para kaum buruh, mengenai perjuangan atas sebuah kenyataan yang asali, yang tidak dimanipulasi oleh para kapitalis. Sebuah kenyataan di mana manusia hanya bergantung kepada manusia lain sebagai manusia, bukan sebagai bagian dari sebuah sistem manufaktur yang memroduksi apa yang dianggap manusia sebagai kebutuhan.
Kebutuhan pun akhirnya menjadi sesuatu yang aneh pula. Kebutuhan untuk makan berubah menjadi kebutuhan untuk makan enak di tempat berkelas atau cepat saji, kebutuhan untuk memakai baju berubah menjadi kebutuhan untuk memakai baju trendy dari rumah mode $#^#$, kebutuhan untuk berkomunikasi berubah menjadi kebutuhan untuk memiliki alat komunikasi bermerk $#^%&%^$. Semuanya berubah. Seolah-olah manusia yang tidak menjadi apa yang pasar tawarkan dan inginkan adalah manusia primitif atau pra modern.
Akhirnya saya mencapai kesimpulan yang naif dan sederhana, bahwa realita adalah adalah kedekatan kita dengan alam dan keasalian kita sebagai manusia. Bukan sebagai manusia yang tinggal di perumahan yang dibuat seperti keadaan pegunungan atau pedesaan, bukan sebagai manusia yang berbaju compang camping produk rumah mode tertentu, dan jelas bukan sebagai manusia yang menggantungkan hidupnya kepada korporasi yang sebenarnya justru menjadi entitas paling jauh dari alam.
Bahwa realita, adalah suatu keadaan di mana kita bisa kembali menjadi manusia otonom yang memiliki apa yang telah diambil oleh para makhluk kekinian yang mengklaim diri modern: solidaritas, empati, kebersamaan, dan segala nilai komunalisme manusia.
3:50 PM
Tentang Hak Kekayaan Intelektual
Pernah tahu kalau hak cipta itu bentuk privatisasi yang menghilangkan makna kemanfaatan dan kenikmatan bersama sebagai tujuannya? Pernah terpikir bahwa hak cipta atau hak paten atau hak-jhak kekayaan intelektual lainnya itu bentuk pembodohan yang membentuk manusia jadi serakah?
Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) itu bentuk pemutlakan hak atas karya yang sebenarnya punya tujuan untuk dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh orang banyak. HaKI itu membentuk manusia menjadi serakah, menjadi terprivatisasi, menjadi individualis dan terasing dari manusia lainnya. Siapakah dia manusia ketika ia terasing dari sesamanya manusia? Perlahan-lahan ia akan kehilangan esensi kemanusiaannya. Memang siapa yang pertama kali menciptakan alat pematik api? Bahkan masyarakat purba zaman phitecantropus erectus juga sudah bisa memantik api dengan batu tapi tidak meminta hasil penciptaannya dibayar. Padahal ide mereka dipakai. Tapi siapa yang peduli? Kemanfaatan yang dihasilkan lebih besar daripada ide itu sendiri.
Tahu Ucok Homicide? Dia pernah mengeluarkan album dengan cuma-cuma hanya demi tersampaikannya ide dan originalitas karyanya kepada masyarakat banyak, Saya tidak percaya kepada pembajakan karya cipta, karena esensi dari karya seni dan karya cipta adalah untuk dinikmati oleh manusia lainnya, bukan untuk dibayar dan kemudian dinikmati oleh manusia lainnya..
You are horrified at our intending to do away with private property. But in your existing society, private property is already done away with for nine-tenths of the population.— Karl Marx
Tentang Styrofoam
Pernah lihat styrofoam? Pernah makan menggunakan wadah styrofoam? Saya pernah, dan cukup sering menggunakan wadah styrofoam, apa lagi kalau dibawa pulang, atau istilah gahulnya take away. Take away bubur ayam, misalnya. Penyumbang pemanasan global? Ya. Percayalah, bahkan ketiga saya berjuang mati-matian untuk mendisiplinkan diri sendiri untuk tidak membeli makanan untuk kemudian dibawa pulang demi berkurangnya sampah styrofoam ataupun sampah plastik, manusia-manusia di sekitar saya lebih suka abai dan memraktiskan diri. Habislah saya, bergerak melawan tsunami. Ini versi ekstrimnya. Tapi saya tidak sedang membicarakan soal pemanasan global di sini, saya akan membahas soal styrofoam dan kawan-kawannya.
Sebagai anak kosan yang lumayan hobi delivery atau take away makanan, saya sering sekali menyimpan sendok-sendok plastik bekas saya pakai setelah makanan saya habis. Yayaya, pemakaian lebih dari sekian kali akan mengakibatkan terurainya zat-kimia-apapun-itu-namanya yang bisa membahayakan tubuh manusia. Saya tidak peduli, karena persediaan sendok di kosan bisa habis tiba-tiba kalau teman-teman kosan yang lagi nunggak cucian piring minta pinjam sendok untuk makan. Jadilah beberapa sendok dan garpu plastik bekas delivery atau take away saya cuci bersih untuk kemudian saya pakai lagi. Jijik? Jorok? Ga lah, ga masalah, kalau tubuh selalu dimasukkan segala sesuatu yang bersih, kadang malah jadi manja. Makan di pinggir jalan sedikit, besoknya tipus. Wah..
Oke, intinya saya suka menggunakan ulang alat makan plastik itu. Bukan, bukan styrofoam yang saya pakai makan, tapi sendok dan garpunya. Lalu kenapa judulnya “Tentang Styrofoam”? Begini, beberapa bulan lalu, ketika seorang teman makan dengan menggunakan wadah styrofoam dengan saya, dia menghancurkan styrofoam nya setelah selesai makan, “Biar ga dipake lagi,” begitu katanya. Sampai beberapa kali tiap saya makan menggunakan styrofoam, saya akan paling tidak membuat bolongan pada tutupnya. Hal itu tidak berjalan lama.
Begini, pada titik tertentu saya sadar bahwa styrofoam dan sendok atau garpu plastik yang kita gunakan lalu kita buang adalah hidup bagi orang lain. Tak lama setelah saya melakukan pembolongan styrofoam dan pematahan sendok dan garpu plastik bekas makan, saya lalu sadar bahwa mungkin kebisasaan saya mengumpulkan sendok dan garpu plastik bekas untuk dipakai lagi juga dilakukan oleh para pemulung? Memangnya mereka semampu apa untuk beli sendok dan garpu dari stainless steel? Atau piring plastik? Mungkin pemulung juga makan tanpa sendok dan garpu, hanya dengan tangan kosong, tapi setidaknya sendok atau garpau plastik atau styrofoam yang kita gunakan bisa mereka jual kembali.
Lingkaran setan? Ya. Karena setelah perpindahan tangan terjadi antara pemulung dengan si pembeli pulungan, bisa saja memang sampah-sampah itu dicuci untuk kemudian dijual kembali dengan harga yang lebih murah dari harga yang tidak bekas, lalu mungkin kembali kepada kita. Konteks pernyataan ini mungkin terlihat konyol, tapi cobalah pahami bahwa, setidaknya kita memberi hidup kepada mereka. Berhentilah bersikap egois dan hanya melihat pantulan diri kita di cermin. Ada mereka yang lain yang juga terpantul dari cermin itu, masyarakat. Saya tidak pernah cukup peduli dengan masyarakat kelas atas, karena menurut marx mereka harus digulingkan untuk kemudian dirampas alat-alat produksinya untuk kemanfaatan entitas yang lebih besar: komunal.
Selamat sore, selamat memberi hidup.

1:09 PM
Slavoj Zizek talks about Living in the End Times
7:15 AM
