20-nothing, messy and spontaneous. i live my life as i wish
March 26th
9:40 PM
Via

Noam Chomsky Quotes: Noam Chomsky on intellectual property

noam-chomsky:

That’s a very interesting question. It has an interesting history. The World Trade Organization, the Uruguay round that set up the World Trade Organization imposed, it’s called a “free trade agreement”. It’s in fact a highly protectionist agreement. The US is strongly opposed to free trade, just…

August 8th
6:56 PM

Radikal

Banyak orang yang selalu menghubungkan tindakan yang disebut radikal dengan sesuatu yang sifatnya destruktif. Contoh:

Orang anarkis tuh radikal banget, sih.. Kerjaannya menghancurkan barang.

Hahahaha.. ini contohnya serba nanggung, sih.. Karena anarkis juga bukannya suka merusak barang, ya.. Orang tukang pukul dan menghancurkan barang tanpa sebab itu bukan anarkis, tapi destruktif dan kasar (contoh: gw). Jadi, FPI itu bukan anarkis. Tolong digarisbawahi, FPI itu bukan anarkis, tapi bigot yang destruktif.

Bahas anarkisnya nanti aja deh, balik ke topik utama.. Gw bicara apa, tadi? Oia, radikal. Jadi, menjadi radikal adalah bukan menjadi orang yang kembali ke akar, karena radikal berangkat dari kata radiks atau akar. Artinya, mengembalikan segala sesuatu ke hakikatnya, ke akarnya.

Jadi orang yang radikal itu bagaimana, ya? Harus jadi orang yang doyan orasi, kah? Jadi orang yang senang konfrontasi, kah? Jadi orang yang suka indoktrinasi, kah? Atau bahkan jadi orang yang judgmental atas radiks, nya? Tidak begitu. Menurut gw, setidaknya.

Gandhi adalah orang yang radikal, Badshah Khan adalah orang yang radikal, Karl Marx orang yang radikal, Zizek orang yang radikal, Munir orang yang radikal, Yesus orang yang radikal, Gus Dur orang yang radikal, dan Bunda Teresa pun orang yang radikal. Semuanya adalah subjek yang berbeda. Ini agak retoris, sebenarnya.. Hahahaha..

Jadi apa yang menjadikan seseorang radikal? Menurut gw pribadi adalah ketika ia atau mereka mampu mengembalikan esensi kemanusiaan itu sendiri. Bahwa manusia bukanlah manusia ketika mereka hanya melakukan adaptasi dengan lingkungan dan keadaan sekitarnya, dan bahwa manusia tidak menghidupi dunia yang telah diberikan, karena setiap individu berdaulat menentukan dan menjadi bagian dari sejarah manusia lainnya!

Kenapa harus bekerja di perusahaan minyak atau tambang milik asing ketika kita sadar betul bahwa keberadaan perusahaan itu justru menghancurkan kehidupan masyarakat (adat) kita? Kenapa harus menjadi corporate lawyer ketika yang membutuhkan advokasi hukum adalah mereka yang tidak mampu mengaksesnya? Kenapa kita harus menjadi pemberi darma (aduh, ini apa ya kata yang tepat? takut misleading deh.. maksudnya kaya filantropis gitu..) ketika kita adalah bagian dari kehancuran masyarakat yang sebenarnya? (lihat video zlavoj zizek: first as tragedy then as farce)

Gandhi tidak tunduk di bawah penjajahan Inggris di India, Marx juga punya kesadaran tinggi mengenai kedok para kapitalis, Yesus memaafkan seorang pelaku zina ketika hukum Yahudi mengharuskan si pezina dirajami sampai mati, Bunda Teresa tidak tinggal diam ketika biaranya menolak keinginannya untuk membantu kaum papa di Kalkuta, dan Badshah Khan tetap melakukan perjuangan tanpa perang di Afghanistan.Itulah radikal! Itulah menjadi radikal! Bukan hanya sekadar merusak barang karena ada orang yang dianggap tidak mengidupi radiks nya, atau memaki dan bahkan mempermalukannya.

Menjadi radikal lah, tapi dengan lebih dahulu membangun kesadaran mengenai, apakah yang kita hidupi ini adalah realita kita? Atau hanya bentukan sekelompok orang semata? Carilah akar kita, kembalilah ke akar: Manusia.

August 7th
6:31 PM
"I am capitalism and I am the reason why you are working overtime so you can buy all the things that will make you super happy."
July 20th
10:08 PM

Tentang Realita

Realita.

Apa itu realita? Sesuatu yang bersifat empiris, kah? Sesuatu yang bisa dicapai hanya oleh indera, kah? Atau sesuatu yang justru tak tertangkap oleh indera, dan hanya bisa dilampaui oleh rasio, untuk kemudian diwujudkan dalam aksi? Apa itu realita?

Saya baru menyadarinya hari ini, ketika saya berdiskusi dengan bang eko mengenai apa itu realita, ia memberikan gambaran mengenai konsep realita melalui kacamata Marxisme. Saya sama sekali belum mempelajari pemikiran Marx secara utuh. Dibandingkan dengan bang eko yang sudah membaca buku kapital jilid I - III bahkan hingga kritik atas marxisme dari para filsuf new left, saya jelas bukan lawan bicara yang sepadan dengannya. Tapi saya memutuskan untuk tetap mempertanyakan, apa itu realita.

Bang eko bilang bahwa realita dalam konteks marxisme adalah keadaan buruh yang sebenarnya mandiri, tapi kemudian dikooptasi, sehingga muncullah keadaan baru yang diciptakan oleh para kapitalis, sehingga seolah-olah para buruh membutuhkan peran para pemilik modal dalam menjalankan hidupnya. Sebuah manipulasi yang terstruktur mengenai apa itu realita, padahal sebenarnya bukan para buruh lah yang bergantung pada para kapitalis, para kapitalis lah yang bergantung pada para buruh.

Bingung, ya? Saya juga bingung, karena konsep realita yang dikatakan bang eko atas dasar pemikiran marxisme sangat tidak menjawab. Jadi saya berusaha mencari jawabannya melalui pemikiran Paulo Freire. Menurut Freire, menjadi manusia adalah soal bagaimana seseorang tidak hanya menjadi penonton dari sebuah keadaan yang seolah-olah telah diwahyukan untuk terjadi, dan menjadi percaya bahwa manusia bawah (digambarkan sebagai basic oleh Marx, dan kapitalis sebagai suprastructure) tidak memiliki kekuatan untuk menjadi bagian dari sebuah keadaan. Artinya, seseorang harus memiliki kesadaran kritis bahwa keadaan yang ada bukanlah sesuatu yang mutlak, dan sangat dimungkinkan terjadinya perubahan yang evolutif, maupun yang revolutif.

Sampailah saya pada kesimpulan bahwa konteks realita yang selalu digaungkan oleh Marx adalah realita para kaum buruh, mengenai perjuangan atas sebuah kenyataan yang asali, yang tidak dimanipulasi oleh para kapitalis. Sebuah kenyataan di mana manusia hanya bergantung kepada manusia lain sebagai manusia, bukan sebagai bagian dari sebuah sistem manufaktur yang memroduksi apa yang dianggap manusia sebagai kebutuhan.

Kebutuhan pun akhirnya menjadi sesuatu yang aneh pula. Kebutuhan untuk makan berubah menjadi kebutuhan untuk makan enak di tempat berkelas atau cepat saji, kebutuhan untuk memakai baju berubah menjadi kebutuhan untuk memakai baju trendy dari rumah mode $#^#$, kebutuhan untuk berkomunikasi berubah menjadi kebutuhan untuk memiliki alat komunikasi bermerk $#^%&%^$. Semuanya berubah. Seolah-olah manusia yang tidak menjadi apa yang pasar tawarkan dan inginkan adalah manusia primitif atau pra modern.

Akhirnya saya mencapai kesimpulan yang naif dan sederhana, bahwa realita adalah adalah kedekatan kita dengan alam dan keasalian kita sebagai manusia. Bukan sebagai manusia yang tinggal di perumahan yang dibuat seperti keadaan pegunungan atau pedesaan, bukan sebagai manusia yang berbaju compang camping produk rumah mode tertentu, dan jelas bukan sebagai manusia yang menggantungkan hidupnya kepada korporasi yang sebenarnya justru menjadi entitas paling jauh dari alam.

Bahwa realita, adalah suatu keadaan di mana kita bisa kembali menjadi manusia otonom yang memiliki apa yang telah diambil oleh para makhluk kekinian yang mengklaim diri modern: solidaritas, empati, kebersamaan, dan segala nilai komunalisme manusia.

June 29th
2:54 AM
"Philanthropists: schizophrenics, who spend their whole lives hoarding wealth while wanting the world to think of them as givers."
June 24th
9:31 PM
Slavoj Zizek on Living in The End of Times

Slavoj Zizek on Living in The End of Times

March 19th
8:50 PM

no thanks, capitalism

March 2nd
1:09 PM

Slavoj Zizek talks about Living in the End Times