Kami adalah Kami, Karena Kami Perempuan
Minggu, 25/08/2013 11:21 WIB

Habib Rizieq Kenang Kharisma Presiden Soeharto Tolak Pagelaran Miss World

Danu Damarjati - detikNews

Jakarta - FPI dengan tegas menolak pagelaran Miss World diadakan di Indonesia. FPI menantikan sikap tegas pemerintah untuk menolak acara itu sebagaimana pernah ditunjukkan Presiden Soeharto.

Ini disampaikan Imam Besar FPI Habib Rizieq menjelang konvoi FPI di Markas Besar FPI, Jl Petamburan III, Jakarta. Dahulu, ada sekelompok orang yang meminta persetujuan kepada Menteri Pemberdayaan Wanita Mien Sugandi. Sekelompok orang tersebut ingin agar Putri Indonesia dikirim ke ajang Miss Universe.

"Mien Sugandi kemudian bertemu meminta kejelasan dari Presiden Soeharto. Hanya sepuluh menit, beliau menyampaikan bahwa Pak Harto cuma menyampaikan satu kalimat, ‘Itu bukan budaya kita.’ Langsung berhenti (permintaan ikut serta dalam ajang Miss Universe)," kisah Rizieq, Minggu (25/8/2013).

Rizieq menekankan, presiden Indonesia haruslah mencontoh ketegasan Soeharto. Miss World haruslah ditolak karena menurut FPi tidak sesuai dengan nilai-nilai yang hidup di Indonesia.

"Inilah kharisma seorang presiden. Mustinya begitulah wibawa seorang presiden. Tidak perlu lewat SK dan rapat kabinet yang berkepanjangan. Cukup ambil inisiatif tegas bahwa pagelaran Miss World bertentangan dengan nilai kearifan lokal kita, batalkan, selesai," pungkasnya.

Menurut rencana Miss World ke-63 akan diadakan di Jakarta dan Bali pada 28 September 2013. Peserta akan dikarantina di Nusa Dua Bali dan malam penganugerahan dilakukan di Sentul International Convention Center, Bogor. Miss World 2012 Yu Wenxia akan memberikan mahkota kepada pemenang.

(tautan asli)

Ah, on the old writings about women, how i love this moment. :’)

Sebelum timeline twitter dipenuhi oleh pro-kontra tentang penamaan Jalan Merdeka Barat yang akan diubah menjadi Jalan Soeharto, sebuah kontroversi tentang penentangan ajang Miss Universe berawal dari cuit Ustadz Felix Siauw tentang penolakan ajang Miss World 2013 diadakan di Bali. Cuit itu merembet ke mana-mana, setelah akhirnya Habib Rizieq tercinta pun mengeluarkan pandangan yang sebelas duabelas dengan pandangan sang Ustadz, muncul pula ibu anggota Komisi X DPR RI, Reni Rominawati yang menganggap ajang ini memperbesar potensi terjadinya pelecehan seksual.

Yeah, i totally get it, how us and our given bodies has always been a problem for your sexual wrongdoings, but to refer it as a cause on the cases of sexual harassment? No’oh, you better get your facts straight, miss Komisi X DPR RI!

Ini jelas sudah kali ke sekian saya menulis tentang perempuan dan tubuhnya, dan ini jelas bukan tulisan terakhir saya tentang perempuan dan tubuhnya. Ralat: kami dan tubuh kami. Kalaulah perlawanan saya hanya sebatas tulisan di blog saya, setidaknya pahamilah bahwa akal sehat saya tidak bisa dilecehkan begitu saya, begitu pula tubuh saya sebagai satu kesatuan yang menjadikan saya manusia.

Saya tidak menyukai ajang Miss World atau Miss Universe, atau beauty pageant contest lainnya. Alasannya bisa jadi hampir serupa dengan yang diutarakan Ustadz Felix dalam beberapa cuitnya, bahwa Miss World mengandaikan perempuan sebagai objek cuci mata laki-laki, gila belanja, doyan make up, dsb, dsb. Ya, saya setuju bahwa ada komersialisasi dan objektivikasi perempuan yang terjadi di ajang Miss World. Tapi bahwa kami diharuskan menjaga tubuh kami untuk suami kami semata, jelas menghina akal sehat dan kemampuan kami untuk memutuskan bagi diri kami sendiri!

Simone de Beauvoir sudah sejak puluhan tahun lalu menyadari hal ini, bahwa beberapa perempuan menikmati objektivikasi yang terjadi atas dirinya sendiri. Kesadaran untuk menjadi objek tidak sama dengan menjadi objek. Bahkan Simone yang hidup di awal abad 20 pun tahu bahwa sejak lama kami telah memiliki kesadaran tertentu dalam diri kami untuk memutuskan entah untuk menikmati diri kami sendiri atau membiarkan diri kami (dengan konsensus dan kesadaran pula) dinikmati orang lain, termasuk laki-laki. Bahkan saya yakin Simone telah lebih dahulu mengalami hal itu.

Kesalahan Ustadz Siuw hanya satu: Dia bukan perempuan. Dia berbicara tentang perempuan yang ideal dari sudut pandangnya sebagai laki-laki. Memang di akhir cuitnya ia menyatakan bahwa pada saat yang sama, kami pun menginginkan suami kami hanya boleh kami nikmati untuk kami sendiri. Agaknya kita sama sama lupa: dalam hubungan yang setara tidak ada konsep kepemilikan. Kepemilikan justru mengandaikan hubungan yang subordinasi. Hubungan yang menempatkan salah satunya sebagai objek yang, karena sudah dimiliki, tidak dapat lagi menentukan secara bebas kehendaknya sendiri.

Pendapat Ibu Komisi X DPR RI lebih mencengangkan lagi (dan ini adalah bukti bahwa kebudayaan patriarkis dan pandangan misoginis bukan monopoli laki-laki), mengeluarkan pernyataan soal Miss World memperparah angka pelecehan seksual. Saya harus akui bahwa keberaniannya untuk bicara tanpa data patut diacungi jempol, tapi ini jelas menghina perempuan. Inilah pentingnya riset sebelum mengeluarkan pendapat. Mungkin Ibu ini terlalu sibuk mengurus rakyat sampai lupa mencari tahu soal angka kekerasan seksual, termasuk pelecehan seksual, yang ada di Indonesia. Padahal ia punya kelebihan: Mengakses dengan mudah hasil riset Komnas Perempuan.

Saya tahun persis di mana pelecehan seksual banyak berlangsung: Keluarga dan lingkungan sekitar korban. Kalaulah pelecehan seksual itu kami alami di gang sempit RT 13 atau di pertigaan lampu merah dekat Warteg Barokah, masakan kami yang disalahkan karena memiliki tubuh yang terberi? Mereka yang bersiul bahkan tidak memandang sependek apa bawahan kami untuk memanggil dengan iseng, “Duh, montok amat.” Bahkan kaus dan jeans yang kami pilih dengan cermat pun tidak cukup melindungi kami dari panggilan kurang ajar atau siulan melecehkan yang kami alami hampir tiap hari.

Soal pendapat Habib tercinta, yah, saya harus menulis apa lagi? Sejak awalpun ia sudah salah menjadikan Soeharto sebagai rujukan nilai kepatutan masyarakat Indonesia. Makhluk yang membiarkan Freeport terus memperbaharui kontraknya untuk meraup darah anak Papua tidak patut dijadikan rujukan, apalagi setelah ia menghilangkan dengan paksa banyak aktivis, dan telah meninggalkan warisan tak ternilai bernama: utang luar negeri. Atau mungkin habib lupa bahwa masyarakat Papua yang masih jadi bagian Indonesia (dan semoga sebentar lagi merdeka), masih menggunakan koteka dan para perempuannya bahkan bertelanjang dada.

image

(sumber gambar)

Mungkin saya salah memahami budaya Indonesia. Atau justru mereka lebih percaya pada agama yang juga diimpor dari jazirah Arab. Arab juga asing, toh? Atau saya salah lagi?

Reblog - Posted 7 months ago with 2 notes
Tentang Belajar

Ini bulan keenam saya bekerja. Beberapa menganggap saya beruntung, belum lagi wisuda, sudah bisa bekerja. Perkenalkan, saya lola, lulusan fh unpar yang sekarang jadi asisten peneliti divisi hukum, tapi tidak tahu apa apa soal hukum.

Bingung? Saya juga. Ketika banyak orang mengharapkan bisa langsung bekerja selepas lulus, saya justru gamang padahal baru bekerja kurang dari satu tahun di kantor saya.

Ketidak pahaman saya soal hukum, membuat saya terlunta lunta. Sungguh, saya tidak melebih lebihkan. Saya lantas berpikir, salahkah saya selama kuliah tidak berusaha lebih keras untuk belajar hukum hukum positif indonesia?

Mungkin salah, mungkin juga tidak.

Tapi saya jelas tidak boleh menyesal. Segala yang saya lakukan ketika masih kuliah adalah pilihan yang secara sadar saya lakukan. Memilih untuk tidak belajar, dan malah diskusi sok kontemplatif soal eksistensialisme. Mencuri baca terjemahan The Second Sex di kelas hukum kompetisi. Atau sekadar menulis ulang kutipan Angela Davis di tumblr saya.

Saat saya bertemu dosen pembimbing saya tak lama setelah saya bekerja, ia bersyukur saya bisa bekerja di tempat saya bekerja sekarang.

"Kamu harus banyak belajar dari FD dan EY. Mereka cerdas dan akan banyak membantu kamu."

Saya tercenung. Saya memang berada di bawah bimbingan kedua orang itu. Saya memang banyak belajar dari mereka. Beruntungkah saya?

Ya

Ketika saya memutar kembali betapa saya hampir selalu membenci pendidikan hukum yang saya terima di masa kuliah dulu, saya justru harus berhadapan dengannya sepanjang hari, 5 hari seminggu. Kalau mau dinilai, saya harus jujur bahwa perkembangan saya lambat, terutama karena minimnya pengetahuan dasar saya tentang hukum.

Seorang sarjana hukum yang kuliah selama 4 setengah tahun, dan masih kepayahan menganalisis kasus dengan logika berpikir hukum. Memalukan benar.

Tapi mungkin ini adalah jalan bagi saya untuk belajar mengenal ilmu hukum yang saya benci. Dengan segala kerigidan dan kesaklekannya, saya harus mencernanya pelan pelan. Bukan asal telan, lalu dibuang lewat proses ekskresi.

"Kamu bantu Mas A riset, ya."

Untuk kesekian kalinya, yang membuat saya yakin bahwa saya mampu adalah orang lain. Orang yang tulisannya sudah jadi rujukan penulisan hukum entah berapa banyak mahasiswa, orang yang setiap saat dimintai pendapat soal banyak kasus korupsi, orang yang sama yang pernah saya hindari ketika mangkir mengumpulkan legal anotasi dua bulan lalu.

Percayalah, bagi kita, waktu belajar belum lagi habis.

:)

Reblog - Posted 11 months ago with 1 note
(Gerbong) Perempuan

Bulan ini adalah bulan keempat saya menjadi pelanggan tetap kereta commuter. Setiap jam 08.20 naik commuter keberangkatan stasiun depok lama, dan sekitar pukul 19.00 pulang lagi dengan commuter. Saya selalu naik gerbong perempuan, kecuali kepepet, saya akan menyusup di gerbong campur.

Kesukaan saya berada di gerbong perempuan, sebesar kebencian saya berada di gerbong perempuan. Percaya atau tidak, kelakuan perempuan-perempuan di gerbong perempuan itu lebih keras daripada para pria dan perempuan di gerbong campur. Saya juga tidak tahu kenapa.

Tidak terhitung berapa kali tangan saya tercakar atau tergores atau lebam tanpa saya ingat pernah bersentuhan dengan benda keras atau tajam di dalam kereta. Saya hanya ingat dihempaskan ke belakang oleh gerombolan perempuan yang turun di stasiun tanjung barat, dan beberapa perempuan yang berpacu dengan waktu akan menarik bahu atau lengan saya kuat-kuat. Mungkin karena itu. Mungkin juga bukan.

Lucunya, saya tidak terganggu karenanya. Gerbong perempuan itu adalah dunia dalam sebuah ruang kecil. Saya membenci ibu ibu yang duduk dengan sotoynya di bangku lipat saat kereta penuh, tapi saya menyukai kesigapan para perempuan yang saling oper tas untuk ditaruh atau diambil di kabin atas. Saya membenci ibu ibu yang bergerombol sambil mengobrol dan tanpa sadar mengambil ruang yang lebih besar, tapi saya menyukai kesigapan perempuan perempuan dalam gerbong dalam merespon kemalangan perempuan lainnya.

Saya membenci tusukan menyakitkan di bahu saya dari perempuan yang mau turun di belakang saya, tapi saya menyukai bantuan identifikasi stasiun yang sering diberikan tanpa diminta kepada para pengguna kereta baru atau yang hilang hitungan.

Dalam gerbong perempuan, saya belajar menahan diri untuk tidak merespon berlebihan mbak mbak kantor yang muntah persis di depan saya. Saya belajar untuk membantu sebisa saya, memberikan tisu kering banyak banyak, dan melawan rasa jijik saya untuk bilang padanya, “Kalau sakit jangan malu.”

Dalam gerbong perempuan, saya belajar untuk tidak melulu mendengarkan musik dengan volume bingar di earphone, terutama kalau ketibanan ibu hamil yang pingsan di stasiun pondok cina. Saya belajar untuk tidak mutung karena karet earphone saya jatuh dan hilang saat berusaha membopong ibu hamil yang pingsan itu.

Dalam gerbong perempuan, saya belajar untuk bersekutu dengan perempuan perempuan lain. Ketika kereta ekonomi mogok di stasiun pasar minggu dan penumpang laki-lakinya dengan brutal memaksa masuk gerbong perempuan yang menyebabkan pintu otomatisnya macet, saya dan perempuan perempuan lainnya mengomeli bapak bapak tadi dan menyuruh mereka turun di stasiun terdekat. Bagian ini tidak terlalu baik sebenarnya, tapi sayabisa melihat bahwa keberadaan laki-laki tanpa konsensus dalam gerbong perempuan itu tidak bisa dikompromikan. Apalagi kalau sampai membuat pintu otomatis macet. Luar biasa perlawanannya.

Saya tidak bisa dan tidak mau menyimpulkan apa apa tentang perempuan perempuan di gerbong perempuan. Perempuan-perempuan gerbong perempuan (termasuk saya), adalah sekumpulan manusia perempuan yang luar biasa gigih (terutama dalam hal masuk kereta dan rebutan tempat duduk), dan enggan kompromi dengan ketidaknyamanan (laki-laki salah gerbong akan diarak ke luar gerbong jika membandel).

Ah, tulisan ini bukti dari kekakuan saya menulis. Sudah hampir dua bulan dari tulisan panjang terakhir saya. Sudah terlalu kering, jadi sulit menulis rasa.

Terima kasih bagi yang sudah mau baca. Jika tidak, tidak rugi juga.

Cerita Ibu

Sudah hampir siang hari, si bungsu belum lagi mengabari. Padahal sudah dari kemarin ia sampai Bandung. Sungguh biasa, ia selalu lupa jika sudah jumpa kawan kawannya. Bukan karena tidak peduli (mungkin memang demikian, tapi saya enggan mengiyakannya. merasa agak dinafikan), tapi karena ia sulit membagi dirinya dengan yang lain. Si setia yang enggan mendua.

"Mau makan di mana, ma?" si sulung rupanya sudah lapar

"Di tempat biasa saja," jawab saya sambil merogoh ke dalam tas, dan memutar nomor handphone si bungsu. Tidak lama, terdengar sapa di seberang, “Halo, man(g)?” Sebuah panggilan yang awalnya saya protes karena terdengar seperti panggilan untuk lelaki, tapi si bungsu tidak pernah repot repot menggubris protes saya, dan tetap memanggil saya begitu. Belakangan saya baru tahu bahwa itu adalah pelafalan “Maman” yang dibaca “Mamang” yang artinya “Ibu” dalam bahasa Prancis.

"Kamu di mana? Sudah gereja?"

Ada jeda lama sebelum ia menjawab penuh keterkejutan, “Memang sekarang hari apa, sih? Minggu?”

"Iya, Minggu!" sentak saya. Saya tidak habis pikir kenapa dia bisa melontarkan pertanyaan begitu tolol.

"Belum mang."

"Kenapa belum?!" sentak saya lagi. Saya tidak terima ia begitu mengecilkan makna Hari Minggu, hingga mengeluarkannya dari jadwal biologis tubuhnya untuk bangun di Minggu Pagi.

"Aku lupa, mang." ucapnya dengan nada sedikit memelas

"Mau pulang jam berapa nanti?"

"Kalau ga jam empat, jam tujuh malam."

"Pulang jam segitu kenapa ga ke gereja dulu?! Kamu mau ke gereja jam berapa?!"

"Yaudah, naik travel jam tujuh saja. Aku ke gereja dulu jam lima sore."

"Ga usah! Bagaimana sih kamu, kenapa bisa lupa hari ini hari minggu?"

Di seberang tidak ada jawaban. Tutututut..

Lancang benar! Dia mematikan sambungan telepon begitu saja. Saya bahkan tidak tahu apakah dia sempat mendengarkan saya menyelesaikan kalimat tadi.

Si sulung dan suami saya sudah menunggu di mobil, bersiap meluncur ke tempat makan langganan kami di pasar. Saya mau bungkam saja, tapi ternyata tidak bisa karena terlalu kesal dengan perlakuan anak itu.

Anak itu, selalu mendua. Baru hari Kamis yang lalu ia memberikan saya tiga buah buku untuk saya baca. “Teologi pembebasan, mang. Biar tidak terjebak dalam dogma saja.” Bahasanya sering kali mentereng dan membuat saya mereka-reka maknanya sebelum membalas apa apa. Lalu di hari Minggu, ia justru lupa harus ke gereja. Betapa mendua.

Selalu bersikap kekanakan ketika meminta disuapi. Ya, disuapi. Di umurnya yang hampir duapuluh tiga tahun, sudah bekerja di LSM, dan musuh bebuyutan ayahnya sendiri, ia selalu minta disuapi. Minta disuapi dan dibawakan bekal ke kantor.

Ada bagian dari diri saya yang merasa gemas karena si bungsu ini seolah enggan dewasa, tapi di saat yang sama saya merasa lega pula bahwa masih ada yang merasa membutuhkan saya. Setelah empat tahun lebih (dan tujuh tahun untuk si sulung) ditinggal berdua saja di rumah, saya merasa berharga lagi.

Bukan, bukan dia tidak dewasa. Dia hanya merasa senang diperlakukan seperti bocah yang sulit makan kecuali disuapi dengan sabar sampai sendok terakhir di piring menuntaskan semuanya. Pengamat yang cukup objektif dan penjaga sedikit protektif jika ayahnya sendiri sudah mulai mengganggu saya.

"Mau makan apa nanti?" si sulung bertanya. Ah, rupanya sudah sampai pula di tempat makan langganan kami ini. Saya tetap kesal pada anak itu, karena telah lancang tadi. Bukan hanya kepada saya, tapi terutama kepada Tuhan yang dengan terang terangan ia lupakan di Minggu pagi ini.

Semoga kamu tidak lupa makan siang, nak.

Reblog - Posted 1 year ago with 2 notes

cukup doa yang dipanjatkan di hari perpisahan

kali pertama hanya kernyit yang mengundang tanya

kali kedua ada kata yang menjajaki tawa

kali ketiga ada rupa yang berusaha disimpan dalam peti hati tak berkunci

wajah sendu yang terpahat di depanku malah menjadikannya sempurna karena ia membawa tawa

sejak itu, aku selalu menunggu datangnya hari baru sekadar ingin bertukar pandang dengannya. atau menatap punggungnya. yang manapun yang membuat hariku kembali pada asanya

Reblog - Posted 1 year ago with 1 note
Tentang LGBTIQ

halo, selamat pagi.. sudah lama ga nyampah di tumblr. alasannya sederhana tapi penting, saya sudah jarang baca buku. jadilah sulit untuk menemukan topik untuk ditulis.

anyway. kemarin malam ketika saya pulang naik kereta, saya berdiri di belakang seorang bapak pns yang membaca koran. setelah beberapa kali membolak balik lembar korannya, ia berhenti pada sebuah berita yang juga menarik perhatian saya, “LGBT Menjangkiti Buruh Pabrik”.

judulnya tidak persis seperti itu, tapi intinya seperti itu. LGBT menjangkiti buruh pabrik. menjangkiti. jangkit. saya sampai harus membuka kamus besar bahasa indonesia online untuk memastikan maknanya. arti jangkit adalah menular, mengenai yang lain.

saya tidak ingat dijangkiti LGBT, padahal saya punya kawan kawan yang lesbi, gay, dan queer. punya hubungan yang cukup baik pula karena beberapa kali bertemu muka dan mengobrol. tapi saya tidak terjangkiti LGBTIQ. saya tetap heteroseksual, punya pacar laki laki dan tidak juga jadi suka perempuan lain.

jadi menurut si penulis berita dan narasumber yang adalah seorang pejabat Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). sebuah lembaga pemerintahan yang mengemban tugas sesuai nama lembaganya, memberdayakan perempuan dan anak. lucunya si pejabat ini mengafirmasi pernyataan bahwa LGBT adalah sebuah penyakit, dan penyembuhannya harus melalui pendekatan agamis, karena hendak menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI).

hm.. lucu juga. sebuah penyakit (saya asumsikan lebih bersifat biologis atau mungkin kejiwaan), yang penyembuhannya bukan melalui jalur medis, tapi melalui sesuatu yang abstrak, bernama agama. lalu di mana letak kesakitannya? saya merasa lucu sendiri.

jadi untuk kamu yang merasa LGBTIQ, mintalah surat keterangan sakit dari dokter setempat untuk diserahkan ke sekolah, kampus, atau kantormu. berhubung penyembuhannya akan memakan waktu seumur hidupmu (karena saya yakin tidak akan ada yang sembuh dari LGBTIQ), serahkan segera surat keterangan sakit itu dan tetap menerima tunjangan kesehatan sejumlah yang dituliskan dalam kontrak kerjamu (hanya berlaku bagi yang sudah bekerja).

surat sakit ini harus ada, untuk menjadi dasar pemberian izin atau cuti bagimu dari instansi yang terkait, selain mempermudah administrasi pencatatan pula. pastikan kamu memintanya ke dokter umum setempat, dan pastikan pula penyakitmu adalah penyakit LGBTIQ. akan ada beberapa opsi reaksi yang akan muncul selanjutnya.

pertama, dokter akan memberikan surat sakit tersebut dan bagian administrasimu juga akan menerimanya. voila, kamu dapat izin untuk istirahat kerja, sekolah dan kuliah.

kedua, dokter akan mengusirmu dari ruang praktiknya dan menganggapmu main main dengan pekerjaannya.

ketiga, dokter tetap memberikan surat itu, dan administrasi justru menolaknya karena menganggap itu hanya candaan darimu untuk sekadar mangkir sekolah, kuliah, atau bekerja.

karena bagi saya, yang sakit adalah yang memberikan pernyataan. bagaimana mungkin orientasi seksual yang berbeda dari heteroseksual dianggap sakit? kalau mau adil, harusnya semua orientasi seksual adalah penyakit, karena hubungan seks tidak aman juga merusak moral dan meningkatkan penyebaran penyakit kelamin dan virus HIV/ AIDS.

jadi?

P.S. LGBTIQ adalah orientasi seksual yang di luar orientasi seksual yanga hetero. singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender/ Transeksual, Interseksual, dan Queer.

P.S.S si pejabat P2TP2A tentulah tidak paham tentang perempuan dan gender dan feminisme. karena jika ia sudah punya pemahaman itu, ia tidak akan mungkin menyatakan bahwa LGBTIQ adalah sebuah penyakit.

Reblog - Posted 1 year ago with 1 note
Padi

satu, dua..

ia melangkah, meniti palung yang penuh jentik

dilepaskannya capingnya, kemudian disesapnya keringatnya yang bercucuran dari dahi

"asin", keluhnya dalam hati

ini hari ke delapan puluh, air tak mengalir dan tak jatuh dari langit

tanahnya mulai retak, sama seperti telapak kakinya

"mungkin besok hujan", harapnya tak pasti

nun jauh, padi-padi telah terhimpit media hidupnya sendiri

Reblog - Posted 1 year ago
2013

2013 greets me nicely. Saya berhasil mendapat nilai yang sangat memuaskan untuk penulisan dan sidang skripsi saya, mendapat IP paling tinggi sepanjang sejarah kuliah di Unpar, berhasil mendaftarkan diri untuk wisuda bulan Februari nanti, dan sudah bekerja di Indonesia Corruption Watch (ICW), mendapat anak anjing lucu yang sangat nakal bernama Noir (baca: noar), dan masih punya orang yang sudah tiga tahun belakangan ini jadi partner saya.

Thank you universe, our work just begun, let’s work the works together.

Reblog - Posted 1 year ago with 2 notes
Tentang Pendidikan Seksual

Perilaku Seksual Siswa Surabaya Semakin Parah

TEMPO.COSurabaya - Hasil survei yang dilakukan Hotline Pendidikan Surabaya bersama Yayasan Embun Surabaya memperlihatkan perilaku seksual para pelajar sekolah menengah atas dan sederajat di Kota Surabaya semakin memprihatinkan. 

Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap siswa kelas XI SMA, SMK, madrasah aliah dan sekolah Kristen selama Juli-Oktober 2012, diketahui bahwa sebanyak 44 persen pelajar Surabaya berpandangan bahwa dalam berpacaran boleh melakukan hubungan intim dengan pasangannya. 

Sampel yang diteliti berjumlah 600 responden di wilayah Surabaya barat, utara, selatan, dan timur, berusia 15-17 tahun. Dari 600 kuisioner berisi 32item pertanyaan tersebut, sebanyak 450 kuisioner dijawab dan dikembalikan oleh 200 pelajar laki-laki dan sisanya perempuan. 

”Kesimpulannya, 16 persen dari kuisioner yang kembali menyatakan bahwa mereka pernah melakukan hubungan intim,” kata Ketua Hotline Pendidikan Surabaya, Isa Ansori, di kantornya, Jalan Purwodadi Surabaya, Ahad, 30 Desember 2012. 

Menurut para pelajar itu, tempat paling aman untuk melakukan aktivitas seksual ialah mal (49 persen), gedung bioskop, kafe dan tempat hiburan tertutup (27 persen), rumah (24 persen), dan sekolah (16 persen). Hubungan intim di sekolah dilakukan pada saat jam kosong pelajaran (22 persen) dan kantin (13 persen). “Adapun sisanya dilakukan di kamar mandi atau tempat-tempat sepi di lingkungan sekolah,” ujar Isa. 

Aktivitas seksual yang dilakukan, menurut Isa, mulai dari sekadar saling cium, meraba, hingga pada tahap berhubungan layaknya suami-istri. Hampir semua responden menjawab bahwa berpacara tanpa disertai ciuman, meraba, dan saling memuaskan dianggap sudah kuno. 

Dalam melakukan aktivitas seksual, para pelajar mengenal momentum yang dianggap sakral, yaitu sehabis puasa Ramadan, menjelang pergantian tahun atau malam tahun baru, hari Valentin, dan pada saat merayakan kelulusan. “Selain momen-momen yang mereka anggap spesial itu tetap ada aktivitas seksual,” ucap Isa. 

Adapun sumber informasi yang menjadi rujukan responden dalam melakukan hubungan seksual adalah televisi (57 persen), teman (53 persen), telepon seluler dan internet (28 persen), radio (23 persen), dan media cetak (22 persen). 

Ketua Yayasan Embun Surabaya, Joris Lato, menambahkan, perempuan pelajar yang pernah merasakan aktivitas seksual rentan terjerumus pada praktek prostitusi. Apalagi bagi mereka yang telah mendapatkan uang dari aktivitas jual diri itu. 

”Masalah ini tanggung jawab semua pihak, baik orang tua, sekolah maupun lingkungan. Namun, sebagai regulator yang memiliki kewenangan lebih, pemerintah harus menegakkan hukum. Misalnya melarang pelajar masuk gedung bioskop atau tempat hiburan,” tutur Joris. 

KUKUH S WIBOWO

link berita

Berita ini saya baca beberapa jam yang lalu, dan pada titik tertentu merasa ingin mensyukuri apa yang terjadi pada remaja-remaja yang sudah aktif secara seksual di umur yang belum menginjak 20 tahun. Betapa tidak? Sekolah-sekolah dengan basis keagamaan toh tidak cukup kuat menjaga moral (atau keimanan) kaum muda yang kepalang penasaran dan asal jalan karena tidak dibekali dengan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas.

Tidak, pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi tidak memancing anak muda menjadi aktif secara seksual atau berpikiran mesum. Pendidikan ini memberikan pengetahuan kepada kita, untuk mempertimbangan secara masak mengenai melakukan hubungan seksual (sebelum menikah) dan dampak yang diakibatkan dari perilaku tersebut, terutama terhadap kesehatan organ reproduksi. Jumlah pengidap HIV/ AIDS yang kebanyakan adalah remaja, harusnya cukup memberikan alasan untuk memberikan pendidikan reproduksi kepada anak-anak dan anak muda.

Ketidak tahuan kita akan bahaya hubungan seksual sebelum dewasa (baca: menginjak usia 18 tahun) misalnya, dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kanker serviks pada perempuan. Hubungan seksual dini yang dilakukan tanpa kondom juga akan meningkatkan penyebaran penyakit menular seksual, entah dilakukan dengan berganti pasangan, ataupun tidak. Perilaku seksual yang diberitakan di atas, jelas memprihatinkan. Tapi yang lebih mengerikan adalah akibat minimnya pengetahuan kita terhadap pendidikan reproduksi dan seksualitas, kita tidak paham konsekuensi yang secara biologis dapat terjadi pada kita. Misalnya, penyakit-penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual.

Bahkan saya baru mengetahui bahwa lubang vagina dan saluran kemih saya adalah dua lubang yang berbeda ketika saya berumur 16 tahun. Selama 15 tahun sebelumnya (atau katakanlah 10 tahun sebelumnya), saya hanya tahu satu lubang vagina tempat keluarnya darah menstruasi dan air seni. Salahkah saya? Mungkin, karena saya tidak cukup peka untuk cari tahu mengenai tubuh saya sedini mungkin. Tapi dengan kondisi sosial dan kurikulum pendidikan yang masih kental dengan primordialisme dan fanatisme agamis, rasa-rasanya memang mustahil bagi kita untuk dapat mengakses pendidikan (minimal pengetahuan) seputar kesehatan reproduksi dan seksualitas.

Situs porno yang diblokir pun tidak serta merta membuat pengonsumsi film porno kehilangan akal untuk mengaksesnya. Penyebaran situs porno memang perlu dihentikan, tapi alasan yang mendasari pemberhentian penyebarannya perlu dipertimbangkan kembali. Kita tidak menonton film porno bukan sekadar karena film itu bejat dan merusak moral (dengan dasar yang agamis), tapi terutama karena dalam film porno, hubungan yang terjadi antara para pelakunya dilakukan dengan timpang. Film porno menjadikan penyiksaan terhadap perempuan dalam hubungan seksual dianggap sebagai sesuatu yang membangkitkan birahi. Dan fakta bahwa kegiatan senggama mereka dijadikan komoditas dagang birahi, maka jelaslah bahwa pornografi pun adalah bentuk perdagangan manusia.

Tapi yasudahlah, mungkin memang para pemangku kebijakan lebih senang mengurusi keperawanan calon siswa SMA-nya dibandingkan melindungi hak asasinya sebagai manusia atas akses kesehatan yang mumpuni. Tulisan ini mungkin bukan apa-apa, karena tulisan panjang yang membosankan sudah cukup menjadi alasan untuk kalian tidak membaca tulisan ini sampai tuntas. Tapi jika anda telah membaca tulisan ini hingga di sini, terima kasih. Mari saling membantu, bagilah pengetahuan anda sekecil apapun mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas kepada orang lain. :)

P.S. seksualitas berkaitan dengan orientasi seksual, pemaknaan terhadap organ seksual, hubungan seksual, dan identitas seksual.

Reblog - Posted 1 year ago
Tentang Pelecehan Seksual

Dalam dua hari belakangan ini, saya membaca dua buah berita berbeda tentang kejahatan pemerkosaan berkelompok (gang rape) di India. Dua berita (berita 1, berita 2), dengan dua korban berbeda, yang diperkosa oleh sekelompok orang, di negara yang sama: India.

Yang saya tahu soal India selain kari adalah, ada banyak orang hebat yang berasal dari India. Mereka melakukan banyak pergerakan dan perubahan sosial, dan menjadi rujukan di dunia internasional seperti Gandhi dan Vandana Shiva. Pemerkosaan berkelompok jelas bukan salah satunya.

Saya tidak berkompetensi untuk menyatakan apakah angka kekerasan terhadap perempuan di India telah menurun atau justru meningkat jauh. Tapi, kekerasan terhadap perempuan terjadi di seluruh belahan dunia, dan dialami oleh semua perempuan. Semua? Ya, semua.

Kekerasan yang ingin saya bicarakan dalam tulisan ini adalah apa yang (pernah) dialami oleh saya, ibu anda, kakak anda, nenek anda, adik perempuan anda, bibi anda, dan pekerja rumah tangga anda. Kekerasan itu bernama pelecehan seksual. Apa yang dituliskan di berita mengenai pemerkosaan berkelompok yang terjadi di India, adalah ancaman yang dihadapi oleh perempuan manapun yang masih hidup di bawah dominasi kultur patriarkis. Harap diingat, pemerkosaan tidak pernah muncul karena korban berpakaian, bertutur kata, atau berperilaku tertentu, dengan demikian rasionalisasi alasan yang didasarkan pada faktor-faktor di atas adalah tidak relevan.

Sejauh yang saya ingat, saya sudah mengalami pelecehan seksual sejak umur saya masih empat atau lima tahun. Seorang tukang becak langganan yang mangkal di dekat rumah, pernah menjamah vagina saya ketika saya sedang duduk duduk di becaknya. Saya, balita yang bahkan tidak tahu bahwa penis yang disebut burung tidak benar-benar punya sayap, merasa risih. Saya masih ingat betul perasaan itu, risih, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Saya bahkan tidak bisa menjerit untuk menunjukkan ketidak sukaan saya terhadap perbuatan tukang becak yang kurang ajar itu.

Percayalah, itu bukan pelecehan seksual yang pertama dan terakhir yang saya alami. Saya pernah bertemu eksibisionis di angkot saat kelas enam SD, mengalami peristiwa “gesek-gesek” di kereta api di masa SMP, dan mengalami siulan-siulan dan panggilan-panggilan yang najis minta ampun dari berbagai macam laki-laki di banyak jalan yang saya telah lewati.

Dulu saya menganggap bahwa beruntunglah perempuan-perempuan yang dipanggil-panggil atau disiuli ketika ia melewati jalan tertentu oleh para laki-laki. Siulan-siulan dan panggilan itu diberikan tentulah karena mereka cantik dan menarik di mata para laki-laki itu. Menjadi menarik ketika saya, yang dari dulu sudah sering dipersalahkan sebagai laki-laki karena kerap dipanggil “Mas”, mengalami hal-hal yang saya anggap hanya mungkin dialami oleh perempuan-perempuan cantik. Lalu tahulah saya bahwa saya salah besar.

Pelecehan seksual tidak pernah terjadi karena seorang perempuan terlihat cantik dan menarik, ia terjadi karena ada kesadaran tertentu dari pelaku dan korban bahwa relasi kuasa yang ada antara mereka adalah timpang. Pelecehan seksual tidak terjadi karena anda menggunakan pakaian tertentu yang dianggap mengundang birahi laki-laki, ia terjadi karena pandangan bahwa perempuan suka didominasi dan digoda oleh laki-laki. Hal ini dianggap pula sebagai parameter taik anjing yang salah kaprah.

Pelecehan seksual pertama yang saya alami telah lewat lebih dari 15 tahun lalu, tapi ketika saya mengingat kejadian itu, tak urung saya merasa jijik dan benci sekali kepada pelakunya. Saya membenci fakta bahwa saya tidak cukup mengerti kekejian pelecehan tersebut, untuk saya dapat melawan si pelaku, minimal melabraknya habis-habisan karena berani menyentuh saya, (yang waktu itu) bocah empat tahun yang organ seksualnya pun belum berkembang dengan sempurna, dan bahkan belum punya satupun gigi tetap.

Trauma itu melekat, sekecil apapun dampak yang diakibatkannya, ia tidak bisa dengan mudah dilupakan. Jadi bayangkan apa yang dirasakan oleh perempuan-perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual, apalagi pemerkosaan (berkelompok). Pemakluman masyarakat yang tidak menganggap kekerasan terhadap perempuan sebagai masalah serius, dan kerap menyalahkan korban karena pola hidup atau cara berpakaiannya, tidak membuat keadaan lebih baik.

Saya tidak menulis ini untuk mempermalukan diri saya. Tapi inilah yang dihadapi oleh perempuan-perempuan berumur berapapun, dengan kondisi fisik seperti apapun, dan dengan pakaian seperti apapun di berbagai belahan dunia. Karena perempuan yang menggoda laki-laki di gang sempit, menyentuhkan payudaranya ke bagian tubuh laki-laki, atau memanggil si laki-laki dengan sebutan-sebutan melecehkan adalah perempuan penggoda dan pelacur. Bagi laki-laki untuk melakukan segala yang disebut tak pantas bagi perempuan adalah, kejantanan.

Lalu laki-laki tidak bisa jadi korban? Bukan itu intinya, tapi laki-laki tidak berhadapan dengan resiko ini setiap saatnya. Sedangkan perempuan?

Reblog - Posted 1 year ago