10:20 AM
Tentang Emosi
Sebenar-benarnya, saya ga menyangka bisa seemosional ini menanggapi kematian Hari (Harindaka Maruti), karena saya toh bukan teman yang dekat dengannya. Perkenalan saya dengannya singkat saja, lebih sering saling mengabaikan bahkan saat papasan. Saya mengenalnya sebagai anak dari dosen saya, dan sebagai mahasiswa angkatan 2010 FH Unpar, tidak lebih. Kecuali fakta bahwa menurut saya, dia bukan orang yang suka basa-basi, terbukti dari keengganannya membalas sapaan saya ketika saya sedang ngobrol dengan bapaknya, dan dia datang menjemput.
Tapi saya merasakan sendiri bagaimana saya menangisi kepergiannya bahkan ketika melihat kumpulan foto di facebook nya dan tulisan terakhir dari teman-temannya. Ya, saya menangis, bukan di hadapan jenazahnya ataupun keluarga dan teman-temannya, tapi sendiri. Signifikansi yang mana, membuat saya bingung sendiri, mengapa saya harus menangisi dia yang tidak sempat saya kenal dengan baik?
Lalu saya ingat sebuah sms yang pernah dikirim Pak Koerni pada Hari Natal 2010, sms yang telah saya hapus, namun tetap saya ingat setiap rangkaian katanya.
Selamat hari natal, lola.. Semoga kamu sekeluarga tetap dalam lindungan Tuhan.. Saya dan keluarga selalu mendoakanmu.
Lalu saya ingat setiap saya bertemu dengan Pak Koerni, ia akan memukul pelan pipi saya, dan bukannya menerima salam saya. Ia merangkul saya ketika saya mengumpulkan proposal skripsi saya. Ia akan menerima kedatangan saya di kantornya sambil berujar, “Ngapain kamu di sini?” sebelum akhirnya berkacak pinggang dan memersilahkan saya duduk untuk ngobrol dengannya. Ia akan membantu saya menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan cita-cita yang saya punya, bahwa keberpihakan pada si miskin dan yang termarjinalkan harus dilakukan kalau mau jadi manusia, “Saya sudah teken kontrak untuk hidup melarat.” begitu salah satu media nasional pernah mengutipnya.
Di hari kedua terbaringnya Hari di rumah duka Borromeus, saya datang kembali menemui mereka. Saya menyalami bapak saya di kampus ini. Ada raut kaget di wajahnya ketika ia melihat kedatangan saya yang kedua kali, setelah sehari sebelumnya, saya menemani teman saya Hendro, yang adalah sahabat Danandaka, kakak Hari, selama Danan memberikan keterangan kepada polisi di rumahnya.
Sambil berkacak pinggang ia berkata, “Ngapain kamu datang ke sini lagi?” Lalu saya mengulurkan tangan dan menyalamnya, ia terima salam itu sebentar, lalu memeluk saya erat. Sayapun balas memeluknya erat. Justru ia yang memberikan saya kekuatan untuk bisa melihat dari kacamatanya, “Hari sudah pergi, jangan ditangisi lagi.”, mungkin itu yang berusaha dikatakannya. Lalu ia mencium kedua pipi saya, dan kami berdua kembali berpelukan hingga menjatuhkan pot bunga.
Saya ingat di hari Hari meniggal, saya datang ke rumah duka untuk pertama kalinya, menyerahkan sepatu dan kaus kaki yang saya dan Hendro belikan untuk Hari untuk terakhir kalinya, dan ia berdiri di sana, di depan ruang jenazah Hari, dan berdiri tegar. Bercak darah masih tersisa di kerah kemejanya. Saya tercenung.
Sambil merenungkan kembali signifikansi kematian Hari terhadap emosi saya, saya tersadar, bahwa Pak Koerni sudah seperti bapak saya sendiri. Ia memeluk saya ketika saya membutuhkannya, ia menampar pipi saya untuk menunjukan bahwa basa-basi sopan-santun itu tidak perlu, ia mencubit pipi saya sambil mengoreksi kesalahan saya untuk menunjukan bahwa tidak perlu merasa inferior hanya karena seseorang itu lebih muda atau kurang tahu.
Mungkin di sanalah sisi emosional saya tergugah, bahwa dosen yang sudah saya anggap bapak sendiri, kehilangan anaknya. Meski saya tidak mengenalnya dengan baik, ada bagian dari diri saya yang sedih bahwa Pak Koerni harus merasakan kehilangan ini. Mungkin itu. Memang itu.

Ia justru mengenakan batik di hari penguburan anaknya (inilah.com)



