20-nothing, messy and spontaneous. i live my life as i wish
April 24th
10:20 AM

Tentang Emosi

Sebenar-benarnya, saya ga menyangka bisa seemosional ini menanggapi kematian Hari (Harindaka Maruti), karena saya toh bukan teman yang dekat dengannya. Perkenalan saya dengannya singkat saja, lebih sering saling mengabaikan bahkan saat papasan. Saya mengenalnya sebagai anak dari dosen saya, dan sebagai mahasiswa angkatan 2010 FH Unpar, tidak lebih. Kecuali fakta bahwa menurut saya, dia bukan orang yang suka basa-basi, terbukti dari keengganannya membalas sapaan saya ketika saya sedang ngobrol dengan bapaknya, dan dia datang menjemput.

Tapi saya merasakan sendiri bagaimana saya menangisi kepergiannya bahkan ketika melihat kumpulan foto di facebook nya dan tulisan terakhir dari teman-temannya. Ya, saya menangis, bukan di hadapan jenazahnya ataupun keluarga dan teman-temannya, tapi sendiri. Signifikansi yang mana, membuat saya bingung sendiri, mengapa saya harus menangisi dia yang tidak sempat saya kenal dengan baik?

Lalu saya ingat sebuah sms yang pernah dikirim Pak Koerni pada Hari Natal 2010, sms yang telah saya hapus, namun tetap saya ingat setiap rangkaian katanya.

Selamat hari natal, lola.. Semoga kamu sekeluarga tetap dalam lindungan Tuhan.. Saya dan keluarga selalu mendoakanmu.

Lalu saya ingat setiap saya bertemu dengan Pak Koerni, ia akan memukul pelan pipi saya, dan bukannya menerima salam saya. Ia merangkul saya ketika saya mengumpulkan proposal skripsi saya. Ia akan menerima kedatangan saya di kantornya sambil berujar, “Ngapain kamu di sini?” sebelum akhirnya berkacak pinggang dan memersilahkan saya duduk untuk ngobrol dengannya. Ia akan membantu saya menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan cita-cita yang saya punya, bahwa keberpihakan pada si miskin dan yang termarjinalkan harus dilakukan kalau mau jadi manusia, “Saya sudah teken kontrak untuk hidup melarat.” begitu salah satu media nasional pernah mengutipnya.

Di hari kedua terbaringnya Hari di rumah duka Borromeus, saya datang kembali menemui mereka. Saya menyalami bapak saya di kampus ini. Ada raut kaget di wajahnya ketika ia melihat kedatangan saya yang kedua kali, setelah sehari sebelumnya, saya menemani teman saya Hendro, yang adalah sahabat Danandaka, kakak Hari, selama Danan memberikan keterangan kepada polisi di rumahnya.

Sambil berkacak pinggang ia berkata, “Ngapain kamu datang ke sini lagi?” Lalu saya mengulurkan tangan dan menyalamnya, ia terima salam itu sebentar, lalu memeluk saya erat. Sayapun balas memeluknya erat. Justru ia yang memberikan saya kekuatan untuk bisa melihat dari kacamatanya, “Hari sudah pergi, jangan ditangisi lagi.”, mungkin itu yang berusaha dikatakannya. Lalu ia mencium kedua pipi saya, dan kami berdua kembali berpelukan hingga menjatuhkan pot bunga.

Saya ingat di hari Hari meniggal, saya datang ke rumah duka untuk pertama kalinya, menyerahkan sepatu dan kaus kaki yang saya dan Hendro belikan untuk Hari untuk terakhir kalinya, dan ia berdiri di sana, di depan ruang jenazah Hari, dan berdiri tegar. Bercak darah masih tersisa di kerah kemejanya. Saya tercenung.

Sambil merenungkan kembali signifikansi kematian Hari terhadap emosi saya, saya tersadar, bahwa Pak Koerni sudah seperti bapak saya sendiri. Ia memeluk saya ketika saya membutuhkannya, ia menampar pipi saya untuk menunjukan bahwa basa-basi sopan-santun itu tidak perlu, ia mencubit pipi saya sambil mengoreksi kesalahan saya untuk menunjukan bahwa tidak perlu merasa inferior hanya karena seseorang itu lebih muda atau kurang tahu.

Mungkin di sanalah sisi emosional saya tergugah, bahwa dosen yang sudah saya anggap bapak sendiri, kehilangan anaknya. Meski saya tidak mengenalnya dengan baik, ada bagian dari diri saya yang sedih bahwa Pak Koerni harus merasakan kehilangan ini. Mungkin itu. Memang itu.

Ia justru mengenakan batik di hari penguburan anaknya (inilah.com)

April 21st
8:42 AM

Hari Ini Hari Kematianku

Hari ini hari kematianku, waktuku tinggal enam jam lagi. Aku terbangun di suatu pagi di tanggal 20 April 2012, mandi sekaligus keramas, kemudian sarapan, dan bergegas ngampus. Hari ini aku tidak pergi bersama bapak, ia mengajar pukul 11.00 nanti, sedangkan kelas pertamaku dimulai pada pukul 09.00.

“Hati-hati di jalan ya, nak,” ibu menerima salamku sambil merapihkan rambutku yang masih setengah basah dan acak-acakan.

“Sudah lah, bu,” ucapku sambil mengelakkan kepala dari tangan ibu yang masih berusaha merapihkan rambutku. Ia mundur, dan menemaniku hingga garasi.

Hari ini hari kematianku, waktuku tinggal lima jam lagi. Aku memacu motorku melewati jalan Tubagus Ismail yang padat, dan Jalan Dago yang merayap. Sial betul, ternyata aku salah memerkirakan waktu tempuh seperti di hari lain, karena ternyata mobil-mobil berplat B telah memadati Jalan Dago hingga sesak, padahal hari belum lagi malam, dan akhir minggu masih besok.

Aku tak punya waktu untuk kompromi, kupacu sepeda motorku hingga Ciumbuleuit, dan setengah tergopoh memasuki kelas. Dosen matakuliahku hari ini killer, aku tak berani macam-macam dengannya, meski harus kuakui, mata kuliahnya bukannya menarik-menarik amat.

Hari ini hari kematianku, waktuku tinggal dua jam lagi. Aku keluar dari kelas menuju gedung rektorat, hari ini aku mau latihan untuk kompetisi internal peradilan semu internasional yang diadakan besok bersama kawan-kawan setimku. Aku menyulut rokok, sambil mengobrol dengan beberapa kawan di depan gedung rektorat, membunuh bosan menunggu waktu latihan yang masih satu jam lagi. Untung aku sudah ingatkan ibu untuk menyiapkan jas untuk hariku besok, aku berniat tampil rapih dan gagah, meskipun katanya dari tahun ke tahun para peserta laki-laki cuma pakai celana bahan dan kemeja. Dasi pun tidak dipakai, apalagi jas. Tapi aku berniat tampil beda bersama kawan-kawan setimku besok.

Ketika aku sedang asyik ngobrol dengan kawan-kawanku, tiba-tiba handphone-ku bergetar, rupanya Mas Danan, kakakku, menelepon.

“Rumah kemalingan Ri, kamu pulang sekarang. Aku sama ibu juga sudah di jalan mau balik dari ABC,” ucapnya dari telepon.

Aku mematikan rokok dan melangkah dengan tergesa menuju parkiran motor.

“Mau ke mana, Har?,” tanya seorang kawan.

“Pulang dulu, rumah gue kemalingan.”

Aku memacu motor dengan kecepatan tinggi, menyalip nekad di antara kendaraan-kendaraan yang memadati jalan. Jarak tempuh normal yang memakan waktu hingga duapuluh menit, kupangkas hingga sepuluh menit. Aku memasuki halaman depan rumah, dan mendapati pekerja rumah tanggaku di depan rumah. Ibu dan Mas Danan belum lagi sampai.

“Ada yang hilang, Mbak Sri?”

“Saya belum lihat betul mas, tapi kamarnya Mas Danan yang diobrak-abrik, dan laptop Mas Danan hilang,” ucap Mbak Sri. Wajahnya dibayangi kepanikan. Rupanya ia pergi ke warung untuk membeli sayur ketika pencuri-pencuri itu datang dan membobol pagar garasi rumah.

Aku berniat masuk ke dalam rumah, tapi kemudian ibu dan Mas Danan tiba dengan motor. Aku pun urung masuk, dan malah mengajak Mas Danan untuk mencari pencurinya, mana tahu masih berkeliaran di lingkungan sekitar.

“Ingat ciri-cirinya, Mbak Sri?”, tanyaku kepada PRT ku.

“Pokoknya ada empat orang naik dua motor, satu motor mio merah, satu pakai motor vario hitam,” ungkapnya.

“Ayo mas,” aku membonceng kakakku keliling kompleks, dan berhenti di rumah salah seorang tetangga kami, Oom Bambang. Mas Danan menanyakan Oom Bambang seputar para pencuri tadi, dan kemungkinan ia melihat wajah-wajah para pencurinya. Aku bergegas menaiki motor lagi, mencoba peruntungan dengan pergi ke daerah Cipaheut.

“Aku ke atas dulu, mas.” Mas Danan hanya mengangguk.

Hari ini hari kematianku, waktuku tinggal duapuluh lima menit lagi. Aku tertegun ketika melihat dua sepeda motor yang sesuai dengan ciri-ciri yang diberikan Mbak Sri, beserta keempat orang yang kucurigai sebagai pelaku sedang duduk-duduk tak jauh dari tempatku berdiri. Aku segera menghubungi kakakku, dan dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ia telah bergabung denganku setelah mengambil motornya lebih dahulu di rumah.

Kami memantau orang-orang yang aku curigai itu. Rupa-rupanya mereka merasa, dan mulai bersiap-siap untuk pergi. Aku meninggalkan motorku dan berjalan ke arah mereka. Aku langsung menghampiri seorang laki-laki yang membawa sebuah tas.

“Maaf Pak, boleh lihat isi tasnya?”

Dua buah pistol langsung mengarah kepadaku dan Mas Danan. Rupanya ia mengikutiku dari belakang tadi. Mas Danan terlihat panik, ia langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Akupun melakukan hal yang sama, tapi aku tetap nekad meringsek maju ke arah mereka. Aku mengira pistol itu pistol mainan. Dari sudut mataku, aku melihat kepala kakakku dipukul dengan popor pistol. Untungnya ia menggunakan helm.

Aku masih berjibaku melawan pencuri-pencuri itu, dalam amarah yang meluap, aku masih bisa mendengar Mas Danan berteriak-teriak memanggil namaku dan memintaku untuk berhenti melawan. Lalu aku dengar letusan pistol, dan bagian bawah ketiak kiriku terasa sakit. Aku rebah, yang aku lihat hanya langit yang mulai mendung, dan aspal yang panas di bawahku. Sakit, tubuhku tak mampu bergerak lagi, aku merasa seluruh pakaianku telah basah oleh darah.

Hari ini hari kematianku, waktuku tinggal lima menit lagi. Aku dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Borromeus di Jalan Dago, tapi sejak tembakan tadi, kami masih terjebak macet di ujung Jalan Tubagus Ismail. Aku merasakan wajah Mas Danan terbenam di dadaku, ia menangis, memohon agar aku bertahan.

Lalu aku lihat gelap, kemudian cahaya terang menyilaukan. Aku hanya ingat satu, “Ke mana rasa sakitku?” Lalu aku ingat ibu dan jasku, mungkin aku mengenakan jas itu, tapi untuk kemenanganku yang lain.

Tulisan ini didedikasikan untuk Harindaka Maruti yang meninggal setelah menjadi korban perampok bersenjata api. Cerita ini fiksi, meskipun beberapa hal seperti nama dan kejadian dituliskan berdasarkan kenyataan. Istirahat yang tenang Ri, saya mungkin tidak mengenalmu dengan baik, tapi ayahmu adalah guru terbaik dalam hidup saya.

Harindaka Maruti

(5/02/1992 - 20/ 04/ 2012)

March 24th
1:26 AM

lalu ada denting yang mengusik hening, mungkin karena terbiasa dengan bingar, ia jadi jengah

rupanya kabar yang tak terdengar telinga, dan terbaca mata lebih menjemukan daripada sejuta gelak tawa yang dibagi bersama

March 15th
4:09 PM

Tentang Perkawinan

Tidak pernah ada yang salah dengan keinginan menjadi ibu rumah tangga. Tidak, karena saya mensyukuri pula memiliki ibu yang masih bisa memberikan saya bekal hingga saya duduk di Sekolah Menengah Atas, dan tidak pula karena saya mensyukuri punya ibu yang bisa memeluk saya ketika saya gagal masuk universitas idaman sebelum pergi sermon ke gereja. Saya mensyukuri punya ibu yang ibu rumah tangga ketika saya tahu ibu saya bahagia dengan pilihan pilihan hidupnya.

Setidaknya begitu sampai suatu hari ibu saya berucap, “Kamu sekolah yang tinggi La, mama ga pernah diizinkan papa sekolah atau berkegiatan sejak kamu dan bang haga masuk SD.”

Dengan pemahaman saya yang pas-pasan kala itu, saya hanya menanggapinya dengan kebingungan. Kebingungan mengenai konsep istri yang tidak lagi bisa mengembangkan dirinya karena suaminya menyatakan demikian, mengenai konsep ibu yang terikat dengan anak-anaknya sehingga ia tidak berani lagi bermimpi dan terpaksa menitipkan mimpinya kepada anak perempuannya, serta tentang konsep perempuan yang tidak lagi mampu menentukan dirinya ketika ia telah terikat dalam lembaga perkawinan.

Awalnya saya selalu menganggap bahwa hal-hal semacam itu adalah lumrah, karena perkawinan pasti memakan korban, dan biasanya perempuan. Tapi setelah saya memahami diskursus yang ada dan berlaku, saya menjadi yakin betul bahwa apa yang dialami ibu saya sebagai sebuah konstruksi sosial yang telah membudaya. Ibu saya besar di Jakarta, ia mengetahui bagaimana kehidupan dan pergaulan di Jakarta, ia mengaku dirinya cukup modern dan berpikiran luas, tapi ia tidak mampu berpikir luas ketika ia diperhadapkan dengan permasalahan yang juga dialami banyak perempuan lain, bahkan yang telah tinggal di kota besar sekalipun: Perkawinan.

Makin jelas saya melihat bahwa perkawinan sering kali justru menjadi penghalang bagi perempuan untuk memahami eksistensinya dalam realita sebagai unit utuh dalam sebuah masyarakat. Perempuan sering kali diasingkan di dalam rumah, di balik kompor, di dalam kamar tidur, atau di ruang keluarga, dan akan semakin terpuruk ketika kita sadar bahwa kita harus mengikuti suami kita karena kita tidak memiliki posisi tawar dalam hal ekonomi. Kalaupun ada, jika kita tidak menyadari bahwa diri kita adalah juga individu bebas yang secara suka rela masuk ke dalam lembaga perkawinan, kita akan tetap berada dalam diskursus yang sama yang telah membelenggu Kartini lebih dari seratus tahun yang lalu.

Saya tidak kawin (atau gunakan kata “belum” jika kata ini dianggap lebih permisif dan tidak terlalu fatalistik), dan saya hanya mampu mengurai realita perkawinan dari pengalaman ibu saya, dan perempuan-perempuan lain yang telah kawin dan terjebak dalam wacana kultur patriarkis yang dominan. Tapi ketahuilah, bagi saya perkawinan itu bukan kewajiban yang harus dipenuhi oleh siapapun apalagi perempuan, dan perkawinan itu bukan soal dominasi siapa yang lebih besar di dalamnya, dan tentu saja perkawinan itu tidak harus menghasilkan keturunan, karena jika dua individu benar-benar membebaskan dirinya dalam lembaga perkawinan, belum tentu segala tetek bengek mengenai keluarga ideal yang selama ini dicekoki kepada kita akan dilanggengkan terus menerus.

Jika perkawinan tidak berakhir menjadi unit yang membebaskan manusia yang ada di dalamnya, maka percayalah generasi yang dihasilkan akan tetap terkorup oleh wacana dominasi patriarkis yang akan tetap mencari celah untuk mendapat legitimasi, di dalam keluarga sekalipun. Bukan, TERUTAMA dalam keluarga.

March 1st
10:30 PM

Krisis

Semua pernah mengalami krisis. Saya bukan pengecualian, meskipun setiap krisis memiliki makna lain bagi tiap individu, begitu juga saya. Kali ini saya merasa berada di ambang nalar dan rasa saya, nyaris mati, mungkin.. Sebuah konsekuensi logis dari setiap kejadian yang telah saya jejak di belakang. IP nasakom semester lalu, belanja dan menyewa buku gila-gilaan dua bulan ke belakang, dan keengganan memerhatikan kuliah setiap hari. Satu kata: lelah.

Mungkin terbuai karena saya sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir yang membenarkan diri dengan pernyataan, “Gw udah jenuh kuliah, cing!” pola pikir tidak berkembang, hanya kapasitas pemakaian otak yang bertambah karena harus melaksanakan kewajiban terakhir sebelum jadi sarjana: skripsi. Belum skripsi sebenarnya, tapi bulan depan saya harus menghadapi seminar judul skripsi, dan sampai saat saya (justru) menulis post ini, saya stuck di sub bab tiga bab satu saya. Bayangkan, stuck, dan saya baru akan membuat bab satu untuk seminar judul.

Hal-hal di atas tidak diperingan dengan fakta bahwa hari senin depan saya harus menghadapi UTS yang tidak begitu saya pahami pelajarannya. Ketahuilah, nyaris semua mata kuliah yang saya ambil semester ini adalah mata kuliah-mata kuliah yang tidak pernah ingin saya ambil. Kredit minimal mata kuliah lah yang memaksa saya harus memilih yang terbaik di antara yang terburuk. Tidak ada kata mundur, karena orang tua saya sudah berekspektasi cukup besar bahwa semester depan adalah semester terakhir saya berkuliah di Unpar durhaka ini. Oh, dan bahwa di awal bulan ini, ketika saldo atm saya sudah Rp7390,00, dan uang bulanan saya belum dikirim.

Hari-hari belakangan saya hanya ingin tidur, membaca, leyeh-leyeh tanpa tujuan yang jelas, dan menghabiskan waktu kontra produktif dengan ketawa-ketawa di sekre MP. Tapi tidak bisa, ketakutan saya menelantarkan tanggung jawab saya masih mampu meneror ketidak pedulian saya akan dunia, rupanya. Mengetuk cukup kencang, kadang hampir membuat tuli, tapi hanya sekadar menyadarkan saya dari kemalasan saya, dan belum membantu saya menyusun langkah untuk menjalaninya.

Bosan, malas, dan lelah adalah perpaduan keadaan dan rasa yang mengerikan dan bisa menghasilkan krisis. Semacam keadaan yang menghantui saya hari hari belakangan ini. Percayalah, menulis post ini mungkin merupakan kegiatan yang sangat buang-buang waktu dibandingkan mulai menyicil materi UTS senin nanti, namun saya punya keyakinan yang cukup buta, bahwa ketika saya menuliskan ini, tulisan ini membantu saya merasionalisasi keadaan saya, dan pada titik yang cukup ekstrim, membantu saya memahami keadaan diri saya sekarang.

Fakta menggelikan di balik penulisan post ini adalah bahwa saya sedang bosan di kosan, gagal menuliskan paragraf kedua dari sub bab ketiga bab satu saya, beli martabak telor untuk dimakan bersama kawan-kawan mp, dan berakhir dengan mengerjakan sub bab ketiga bab satu saya, dan memakan sendiri martabak telor tadi, karena ternyata kawan-kawan MP (yang juga adalah awak sorgemagz) sedang rapat, dan menulis post ini setelah berhasil menyelesaikan dua paragraf baru di sub bab ketiga bab satu satu saya.

Multitasking, you’re doing it right.

February 17th
2:46 PM

Antara PSK dan WTS di Gardujati

Kalian ke gardujati? Liat Wanita tuna Susila, ndak?

Kata-kata itu terlontar dari mulut seorang kawan ketika saya dan beberapa kawan dan alumni Media Parahyangan pergi ke daerah Gardujati untuk melihat perayaan Imlek di beberapa vihara di daerah itu. Untuk diketahui, Gardujati memang sempat menjadi daerah prostistusi yang populer di daerah Gang Saritem. Tempat prostitusi ini sebenarnya sudah diklaim ditutup oleh Pemerintah Kota Bandung, namun praktik prostitusi di Saritem tidak serta merta berhenti, terbukti seorang kawan yang berhasil menemui seorang germo, meskipun tidak berhasil mewawancarai mereka.

Kali ini saya tidak akan menyoroti prostitusi di Saritem, tapi saya akan membahas pernyataan teman saya mengenai Wanita Tuna Susila (WTS). Saya sempat berdebat dengannya mengenai penggunaan kata WTS. Saya lebih setuju dipergunakannya kata Pekerja Seks Komersial (PSK). Saya bisa berikan alasan-alasan yang rasional, mengapa saya lebih memilih menggunakan PSK dan bukannya WTS bagi perempuan-perempuan itu. WTS itu sebutan munafik bagi para moralis bejat yang patriarkis.

Oke, saya akan jabarkan alasannya. Saya hanya akan menjabarkan alasan saya dalam dua poin, mengapa WTS itu seksis, dan mengapa PSK itu representatif.

Pertama, penggunaan kata Wanita Tuna Susila itu, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, adalah munafik. Pengertian Wanita Tuna Susila jika ingin dijabarkan secara harfiah adalah bahwa mereka tidak memiliki susila, karena mereka memamerkan seksualitasnya di ruang publik. Sama seperti KUHP yang seksis, di mana pemerkosaan dianggap sebagai kejahatan susila dan bukannya kejahatan berbasis jender (gender based violence), penyebutan pelacur sebagai WTS dilakukan semata-mata untuk menyudutkan perempuan sebagai si pembawa petaka, sebagai yang tidak punya susila karena mereka menjadikan tubuh dan bahkan genital mereka sebagai komoditas. Dan mungkin, karena tindakan mereka yang tuna susila, si pengguna jasa tertular jadi tuna susila pula. Kurang koruptif apa logika ini?

Yang harus dipahami di sini adalah, kecuali si perempuan memang seorang nymphomaniac, atau hypersex, menjadi pelacur bukanlah pilihan para perempuan yang akhirnya tetap menjadi pelacur. Seorang sahabat yang pernah dekat dengan dunia prostitusi dan menjadi pelanggan, pernah menjadi tempat curhat si pelacur (lebih mengagetkannya lagi, ia mengaku beberapa pelacur yang ia bayar bahkan pernah tidak ia mintakan servisnya, karena ia ternyata lebih tergugah untuk mengetahui cerita mereka. Meskipun ia tidak urung, tetap berhubungan seks dengan si pelacur juga, walau di waktu berbeda).

Para perempuan itu mengaku tidak pernah mau menjadi pelacur, umumnya mereka ditipu, dipaksa bahkan oleh pacar ataupun suami mereka, terjepit tuntutan ekonomi karena telah terlanjur merantau dan harus menghidupi keluarga yang ditinggalkan di kampung, atau karena terlanjur telah kehilangan keperawanan sebelum menikah. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa ketika mereka menjadi pelacur, mereka telah melakukan konsensus (entah tertulis entah tidak, entah dengan germonya, atau dengan dirinya sendiri) untuk melepaskan haknya atas tubuhnya. Atas payudaranya, atas pinggangnya, atas pinggulnya, atas perutnya, atas bibirnya, dan atas vaginanya.

Inilah yang menjadi alasan kedua saya, mengapa saya lebih memilih menggunakan kata PSK: Tubuh para perempuan itu dikomersialisasikan. Jadi, mereka bekerja dengan menjadikan seksualitas mereka, sebagai komoditas yang dikomersialisasikan. Artinya, ketika mereka menjadi pelacur, ia tidak sedang menghilangkan kesusilaannya, tapi mengomersialisasikan seksualitasnya. Lihat bedanya? Mereka bukannya tidak punya susila, tapi mereka dipaksa (atau tidak dalam kasus nymphomaniac dan hypersex) mengomersialisasikan seksualitas mereka.

Demikianlah, bahwa bagi saya WTS itu hanyalah term menyesatkan yang dibuat oleh para moralis yang patriarkis, yang merasa lidahnya akan ternoda karena menyebutkan kata “seks”, dan merasa terhina jika para pelanggan yang umumnya laki-laki (termasuk sahabat saya) dinyatakan sebagai yang lebih dulu menjadi tuna susila karena membeli jasa para pelacur dan menganggap dirinya bisa melakukan segala hal kepada si pelacur, hanya karena ia telah membeli jasanya.

Mungkin sudah waktunya slutwalk dilakukan di Indonesia, karena yang porno itu otakmu, bukan vaginaku, jadi jangan salahkan belahan dadaku (yang sayangnya tidak pernah terlihat karena terlalu kecil) jika kontolmu tiba tiba ngaceng.

(P.S. ketahuilah, kontol itu adalah bahasa indonesia yang resmi, jadi berhenti mengira bahwa saya suka omong jorok hanya karena saya menulis kontol)

(P.S.S. sahabat laki-laki saya ini ngakunya sudah tobat, karena sudah punya pacar)

(ditulis untuk sorgemagz)

January 8th
11:42 PM

Lesson Learned!

So, i just saw my final score for this semester on unpar student portal, and i could tell you that this semester’s final score is the shitiest scores i’ve ever got, with an even shitier, gpa. Hahahaha.. Ngenes juga sebenarnya, karena inilah kali pertama ip saya hampir menyentuh angka terendah nominal indeks prestasi semester seorang mahasiswa. Yang konyol adalah, betapa kenyataan ini cukup membuat saya kesal, dan nyaris menangis.. Wajar kalian bilang? Buat saya, tidak.

Begini, hampir di setiap waktu, saya selalu meyakinkan diri saya bahwa sistem pendidikan yang (telah) diterapkan di fakultas hukum unpar, tidak pernah memenuhi kebutuhan masyarakat kita, dan bahwa manusia manusia yang sedang berusaha diciptakan oleh fh unpar adalah manusia setengah robot. Artinya, sejauh yang saya yakini sebagai pendidikan yang membebaskan versi paulo freire, fh unpar melenceng cukup jauh dari praktik pembebeasan subjek seperti yang dilakukan dan digagas oleh Freire. Itu saya sadari dan saya yakini betul, sehingga saya tidak pernah merasa keberatan dengan nilai nilai laknat hasil ujian pilihan berganda yang masih populer diberikan oleh dosen dosen fh unpar yang mengaku sudah merasakan pendidikan maju a la Eropa.

Tapi di semester ketujuh saya kuliah di sini, hantaman itu datang juga, nilai saya hancur lebur.. Bahkan untuk mata kuliah mata kuliah yang sudah habis habisan bahannya saya pelajari, tetap mendapat nilai yang tidak lebih baik daripada 60, di mana lima dari sembilan mata kuliah yang saya ambil menggunakan metode pilihan berganda sebagai bentuk ujian akhir, bukannya essay seperti ujian tengah semester kemarin. Dan begitulah, kehancuran saya berlipat ganda dengan dua mata kuliah yang telah saya ambil sebelumnya mendapat nilai yang sama dengan nilai yang ingin saya ubah..

Di tengah kegalauan akademik luar biasa karena nilai nilai nilai yang saya dapat semester ini, saya menyadari beberapa hal penting yang harus saya renungkan betul:

  1. Shit happens all the time, and it sure is a pain in the ass
  2. Bahwa godaan untuk mengikuti standar yang ada adalah sangat besar: saya menjadi sangat kesal karena tidak memenuhi standar nilai reduksionis yang telah mapan
  3. Bahwa kuliah di unpar itu benar benar mahal dan tidak mendidik, jadi cobalah untuk tetap mencari tempat kuliah lain di komunitas komunitas setempat
  4. Bahwa saya bertanggung jawab atas nilai nilai saya semester ini
  5. Dan saya siap memberikan diri saya pada kegiatan lain di luar kegiatan perkuliahan yang membantu saya menjadi lebih manusiawi.

Kuliah itu, sama seperti belajar, tidak terbatas ruang dan waktu, apalagi formalitas angka angka akhir di transkrip nilai saya kelak. I am human, and those scores defines nothing but nothingness, that doesn’t make me less humane.

December 26th
3:53 PM

dan pada akhirnya, persekutuan terkuat yang saya miliki adalah komitmen saya dengan mimpi mimpi saya. bukan dengan yang lain.

karena saya tahu tuhan jenuh saya seret ke dalam geladi pertahanan diri saya terhadap mereka yang di dalam firman-Nya harus saya turuti untuk terus hidup.

jadi pada akhirnya, saya harus menuntun-Nya keluar dari arena pertarungan ego saya, dan berharap dari tempat tersuci-Nya, Ia masih menatap saya dan memanggil saya, “Anak-Ku”.

December 15th
9:48 PM

Tentang Berita

Puluhan PSK dan Pasangan Sejenis di Binjai Dicomot Petugas

Metrotvnews.com, Binjai:Puluhan pekerja seks komersial (PSK), pasangan sejenis, dan pasangan di bawah umur terjaring razia penyakit masyarakat (pekat) yang dilakukan tim gabungan Dinas Sosial, Polres dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Binjai, Sumatra Utara, Rabu (14/12).

Razia dimulai dari sejumlah hotel kelas melati di Jalan Tengku Amir Hamzah. Pasangan yang terjaring pun bukan hanya warga setempat, namun juga dari luar kota seperti Medan, Langkat dan Aceh.

Menurut Kabag Dinas Sosial Kota Binjai, Darwin Barus, pihak yang tertangkap selanjutnya akan didata terlebih dahulu sebelum diserahkan pada keluarganya.

Operasi ini dilakukan untuk menghilangkan pekat yang merupakan persiapan Binjai sebagai tuan rumah Festival Nasyid.

Razia pekat ini juga akan terus dilakukan di sejumlah hotel dan lokasi hiburan lainnya hingga tahun baru mendatang untuk menekan angka kejahatan di Kota Binjai. (*)

(original link)

Berita di atas gw baca pagi tadi, sebelum menjerumuskan diri mengerjakan soal Perancangan Kontrak Bisnis yang bahkan tidak gw pelajari di waktu waktu sebelum UAS gw. Berita ini diretweet oleh seorang teman dengan komentar, “Hahahaha” —> sounds like hahaha you’re dead to me, cause you’re just an ignorant fucker. Anyway, gw ga tau maksud dia berkomentar begitu apa atas berita yang dilansir di situs berita metro tv ini.. Tapi biar bagaimana pun, gw memang hendak berkomentar soal berita ini..

Jadilah gw ngoceh ngoceh ga jelas tapi marah di twitter karena menurut gw, media —dalam hal ini Metro TV— tidak mampu memosisikan diri sebagai pewarta yang menyuarakan yang marjinal dan yang dimarjinalisasikan, bukannya jadi kompor soal apa yang dilakukan sama si kaum marjinal, tapi dianggap hina sama orang banyak.

@lolakaban : jadi, saya baru meretweet berita, dari twitter metro tv, yang menurut gw agak ignorance.

@lolakaban : dan berita ini dianggap mewakili pandangan masyarakat pada umumnya. bahwa masyarakat kita tidak permisif terhadap gay dan psk

@lolakaban : i’m sorry but i don’t see gays are less human than heterosex. do they have like three eyes or four genitals? are they monsters?

@lolakaban : NO! THEY ARE HUMANS! AS HUMAN AS THE REST OF OTHER PEOPLE IN THIS ENTIRE RETARD WORLD!

@lolakaban : gosh, who are you people to judge other people’s morals and ethics and religiousness? you’re not God, therefore your judgment is invalid.

@lolakaban : oke, yang kedua tentang PSK. ada satu hal yang cukup gw syukuri tentang penyebutan PSK, bahwa mereka tidak dipersamakan lagi dengan WTS

@lolakaban : WTS itu Wanita Tuna Susila, in case you don’t remember what WTS stands for..

@lolakaban : Siapa yang lebih tuna susila, perempuan yang terhimpit kesulitan ekonomi dan menjual dirinya..

@lolakaban : atau laki-laki yang membeli jasa PSK yang secara tidak sadar menjadikannya objek pemuas nafsu seksualnya?

@lolakaban : dan ini lah berita yang ditawarkan kepada masyarakat luas, bahwa kaum yang marjinal dianggap sebagai parasit yang harus dimusnahkan.

@lolakaban : dan saya mulai kesal karena terlalu banyak bigot yang menyebut nama Tuhan ketika memerangi sesamanya manusia dibanding ketika mengasihinya.

@lolakaban : dan di sanalah peran media, ngomporin masyarakat untuk bertindak dengan tidak lebih manusiawi dibanding anjing. dan di sinilah saya hidup.

Media tidak imparsial, jelas. Tidak ada hasil kebudayaan yang dihasilkan tanpa berpretensi tertentu terhadap sesuatu. Bahasa adalah hasil kebudayaan, artinya ia tidak bebas nilai, begitu juga media massa yang memanifestasikan bahasa dalam bentuk tertulis maupun verbal. Berita tidak akan pernah bebas nilai! Berita pasti memihak, tapi keberpihakan itu harus ditutupi dengan metode penulisan cover both or even multiple sides.

Artinya, kalaupun berita yang ditulis punya keberpihakan pada sesuatu, adalah haram hukumnya hanya mencantumkan pendapat hanya dari satu sisi. Tapi yang harus dikritisi lebih lanjut adalah, bahwa yang marjinal dan dimarjinal kan lah yang suaranya sering dibungkam, dan realitanya diasingkan oleh para mereka yang punya kuasa.

November 5th
2:33 AM

Tentang Kapitalisme

Gw ga pernah tahu apakah ini baru dipikirkan oleh pacar gw saja, atau sudah ada yang lebih dulu menyadari ini. Kayaknya sih sudah ada, ya.. Tapi yaudah lah, karena gw baru dengar hal ini dari bang eko, jadi gw akan berasumsi bahwa baru bang eko lah orang yang menyatakan bahwa kapitalisme adalah ideologi tanpa ideologi. Sebenarnya, tidak layak kata “isme” disandangkan dengan kata “kapitalis”.

Kapitalis tidak identik dengan liberalisme, karena liberalisme merupakan proses perjuangan dalam Reovlusi Prancis dari pimpinan Louis XVI yang melahirkan semboyan liberte, egalite, dan fraternite yang seksis abis itu. Kapitalis, di lain pihak, tidak muncul dari perjuangan kaum tertentu demi yang commons (kata ini kalau di bahasa indonesia kan kurang ada padanannya). Artinya, kapitalis dapat hidup dalam ruang dan jenis ideologi apapun, karena pada dasarnya kapital(isme) hanya merupakan sebuah gerak mekanistis yang berupaya mengakomodasi modal individu.

Jadi, apa yang disebut dengan kapitalisme, menurut bang eko setidaknya, adalah sebuah konsepsi yang kurang tepat karena, seperti yang sudah gw jelaskan tadi di atas, kapitlasime adalah ideologi tanpa ideologi. Ia bisa hidup di manapun, bahkan dalam era pemerintahan Mao dan Stalin yang sangat sosialis, Mao dan Stalin memutar uang untuk negara dan partai mereka dengan mekanisme produksi yang dilakukan para kapitalis.

Pernah menonton Schindler’s List? Itu juga merupakan bukti bahwa dalam era Fasisme Nazi di Jerman pun, kapitalis tetap hidup. Inilah bukti bahwa kapitalis tidak pernah merupakan persoalan ideologis, etika, atau filosofis, karena kapitalis hanya gerak mekanistis para individu yang tidak memperjuangkan apa apa. Akumulasi kapital bukanlah bentuk perjuangan, karena universalitasnya.

October 3rd
11:59 PM

Tentang Berbagi

Saya adalah orang yang suka ngutang. Kalau saya lupa bayar, mohon dimaklumi, karena saya terbiasa hidup di lingkungan yang permisif dengan orang ngutang. Saya anggap itu pola hidup komunal. Tidak banyak lagi orang yang bisa dihutangi tanpa meminta untuk dibayar hingga sebulan kemudian. Itupun kalau dia ingat. Sungguh, tidak banyak. Saya termasuk orang yang mudah dikibuli soal utang. Percayalah, 8 dari 10 orang yang meminjam uang dari saya, tetap mampu mengibuli saya soal nominal yang mereka pinjam dari saya ataupun nominal yang saya pinjam dari mereka.

Post kali ini bukan soal utang piutang, apalagi soal betapa mudahnya mengibuli saya soal uang. Saya hanya ingin bicara soal berbagi. Jauh ya? Jauh ga, sih? Ga lah ya, ga jauh jauh amat.. IH LOLA MAKSA YA. KAYA MINTA SETORAN ANGKOT AJA KE SOPIR CAHEUM CIROYOM. Jadi begitulah, setelah lama hanya reblog dan nyampah di tumblr sendiri akibat kurang gagasan karena jarang baca buku, saya memutuskan untuk menulis kembali post ga seberapa yang ga terlalu menggugah juga.

Beberapa waktu lalu, saya dan bang eko diusir dari sebuah toko kelontong karena kami menumpang mengobrol di depan tokonya. Sudah sering saya alami sebenarnya, di mana biasanya mentok mentok saya cuma akan menyumpahi si pemilik atau penjaga tokonya dirubung kecoak di malam hari kala mereka tidur. Paling parah adalah saya berharap listrik mati selama tiga hari, sehingga minuman dingin yang mereka simpan untuk dijual tidak lagi laku. Atau yang lebih parah mengabsen deretan hewan ternak dan peliharaan.

Jadi di sanalah kami, saya dan bang eko, memutuskan untuk melanjutkan percakapan kami dengan berdiri di depan toko kelontong yang sama. Kalau biasanya saya hanya berhenti pada tahap memaki, bersama bang eko tahap itu tidak pernah dilewati tanpa kontemplasi. Konklusi yang akhirnya tercipta dari kejadian yang baru kami alami berakhir di sini: Betapa banyak orang mulai enggan berbagi, dan hanya mengorientasi diri dengan materi dalam bentuk kapital atau uang.

Ketika saya, kamu, dia, atau mereka hanya menumpang duduk tanpa membeli apa apa dari sebuah toko, sudah pasti kita hanya dianggap parasit karena hanya memenuhi toko tanpa memberikan surplus value kepada si empunya usaha. Relasi manusia dapat diukur sebatas keuntungan yang bisa didapat dari subjeknya (atau objek?). Sebatas itu. Perihal komunalisme tidak lagi menjadi perhitungan. “Kurang laku kalau ngomongin begituan sekarang”, mungkin begitu pikir banyak orang. Memberikan ruang tanpa pamrih bagi para pencari untung tak lagi relevan. Relasi yang tercipta antara aku, kamu, dia, dan mereka berakhir pada: Berapa keuntungan yang bisa saya dapat darimu/ darinya/ dari mereka? Atau, saya bisa dapat apa darimu/ darinya/ dari mereka?

Ruang untuk menjadi kita yang utuh tak lagi terbuka. Semua orang mulai lelah menyediakan oase. Mungkin karena kerap kali pula si pencari oase justru membangun pabrik air mineral dari oase untuk banyak orang itu. Siapa tahu? Semua orang mulai suka berprasangka, bahwa yang liyan adalah parasit. Harus parasit, karena kalau bukan parasit, mereka tak akan dapat untung.

11:23 PM

Food Sovereignty, NOT Food Security