11:45 PM
Apa yang Salah?
- lola: kemaren gw dipanggil "mas" lagi lah sama mbak mbak tempat makan
- mirza: apa yang salah?
- lola: *gebok
bukan karena ia mau, tapi karena aku terlalu belagu, dan tak tahu malu.
dasar kepala batu
So, i just saw my final score for this semester on unpar student portal, and i could tell you that this semester’s final score is the shitiest scores i’ve ever got, with an even shitier, gpa. Hahahaha.. Ngenes juga sebenarnya, karena inilah kali pertama ip saya hampir menyentuh angka terendah nominal indeks prestasi semester seorang mahasiswa. Yang konyol adalah, betapa kenyataan ini cukup membuat saya kesal, dan nyaris menangis.. Wajar kalian bilang? Buat saya, tidak.
Begini, hampir di setiap waktu, saya selalu meyakinkan diri saya bahwa sistem pendidikan yang (telah) diterapkan di fakultas hukum unpar, tidak pernah memenuhi kebutuhan masyarakat kita, dan bahwa manusia manusia yang sedang berusaha diciptakan oleh fh unpar adalah manusia setengah robot. Artinya, sejauh yang saya yakini sebagai pendidikan yang membebaskan versi paulo freire, fh unpar melenceng cukup jauh dari praktik pembebeasan subjek seperti yang dilakukan dan digagas oleh Freire. Itu saya sadari dan saya yakini betul, sehingga saya tidak pernah merasa keberatan dengan nilai nilai laknat hasil ujian pilihan berganda yang masih populer diberikan oleh dosen dosen fh unpar yang mengaku sudah merasakan pendidikan maju a la Eropa.
Tapi di semester ketujuh saya kuliah di sini, hantaman itu datang juga, nilai saya hancur lebur.. Bahkan untuk mata kuliah mata kuliah yang sudah habis habisan bahannya saya pelajari, tetap mendapat nilai yang tidak lebih baik daripada 60, di mana lima dari sembilan mata kuliah yang saya ambil menggunakan metode pilihan berganda sebagai bentuk ujian akhir, bukannya essay seperti ujian tengah semester kemarin. Dan begitulah, kehancuran saya berlipat ganda dengan dua mata kuliah yang telah saya ambil sebelumnya mendapat nilai yang sama dengan nilai yang ingin saya ubah..
Di tengah kegalauan akademik luar biasa karena nilai nilai nilai yang saya dapat semester ini, saya menyadari beberapa hal penting yang harus saya renungkan betul:
Kuliah itu, sama seperti belajar, tidak terbatas ruang dan waktu, apalagi formalitas angka angka akhir di transkrip nilai saya kelak. I am human, and those scores defines nothing but nothingness, that doesn’t make me less humane.

karena saya tahu tuhan jenuh saya seret ke dalam geladi pertahanan diri saya terhadap mereka yang di dalam firman-Nya harus saya turuti untuk terus hidup.
jadi pada akhirnya, saya harus menuntun-Nya keluar dari arena pertarungan ego saya, dan berharap dari tempat tersuci-Nya, Ia masih menatap saya dan memanggil saya, “Anak-Ku”.
to fail my agrarian law.
Hari ini gw kembali dikesalkan oleh fakta bahwa setelah capai capai ambil Semester Pendek dan belajar sebelum ujian, nilai yang berusaha gw ubah justru tidak berubah.

Hukum Dagang dari nilai C ke C. LAGI
Hukum Perdata Internasional dari nilai E ke D. WTF
Kriminologi dari nilai D ke A. IT’S WORTH THE PAIN, AND THANK YOU KARL MARX FOR SAVING MY ASS BACK THEN!
Jadilah gw ngamuk ngamuk di twitter. Orang boleh bilang gw norak, egois, dan kekanak kanakan sesukanya. Karena percaya atau tidak, ini semua berasal dari sebuah sistem yang sudah luar biasa bobrok dan korup. Dan ketika lo berusaha sekuat tenaga untuk melawannya, lo kalah + DIPERMALUKAN.
@lolakaban oke, kali ini gw akan menyampaikan kekesalan terhadap sistem yang ada. bodo amat buat yang mau bilang gw ga bisa nerima nilai2 gw yang jelek
@lolakaban sistem pendidikan yang ada sekarang (di unpar setidaknya) menurut gw telah mengalami degradasi besar besaran.
@lolakaban semua mahasiswanya dibentuk untuk menjadi craftman, atau tukang, atau tenaga ahli, dan bukan manusia
@lolakaban semuanya serba distandarisasi, semuanya serba direduksi. pemaknaan atas intelegensia seseorang hanya sejauh, “Dapat nilai berapa, lo?”
@lolakaban sist pendidikan tinggi hukum (unpar) sudah tidak lagi mengakomodasi nilai yang lebih esensial: kemanusiaan
@lolakaban semua berlomba menjadi pengacara kaya, semua berlomba menjadi ahli hukum bisnis, semua berlomba jadi agen kapitalis
@lolakaban semua diarahkan untuk menjadi seorang yang terasing dari realitanya, orang yang enggan bersentuhan dengan sekitarnya
@lolakaban dibentuk menjadi orang dengan pencapaian PENDAPATAN yang tinggi, dan bukan advokasi terhadap mereka yang tak mampu mendapat akses hukum
@lolakaban sistem sks yang semakin mempersempit ruang belajar kita adalah salah satunya, belum lagi dengan biaya selangit yang bikin pusing
@lolakaban mahasiswa dibentuk menjadi manusia yang praktis, manusia yang hanya peduli pada nilainya, pada “balas dendam” atas jumlah uang yang telah dikeluarkannya selama kuliah
@lolakaban siapa yang mau peduli dengan nasib kaum adat yang tanahnya direbut paksa hanya karena ia tidak punya sertifikat tanah?
@lolakaban padahal tanahnya adalah tanah peninggalan leluhurnya, dan akhirnya ia diusir dari tanahnya sendiri karena tdiak punya setifikat tanah
@lolakaban semua rutinitas kampus yang ada tidak pernah mengakomodasi mahasiswa menjadi pemikir kritis, sebaliknya mahasiswa adalah pemikir praktis
@lolakaban mahasiswa dibuat menjadi makhluk yang beradaptasi dengan lingkungannya, dan bukan makhluk yang berintegrasi
@lolakaban brp banyak mahasiswa yang mau repot repot belajar filsafat hukum dan mendalaminya ketika mata kuliah itu tdk menjamin pendapatannya kelak?
@lolakaban semuanya adalah soal penyelamatan diri dari lubang besar: ketidakmampuan menjadi apa yang dianggap orang hebat
@lolakaban banyak orang yang mau menjadi O C Kaligis, tapi berapa banyak yang rela jadi Munir?
@lolakaban Katakanlah perkataan gw ini egois dan hanya cari aman, tapi akhirnya gw melihat realita yuang lebih buruk lagi: komodifikasi pendidikan
@lolakaban Salahkah saya mengkritisi sistem yang ada?
@lolakaban Krn pada akhirnya, kemanusiaan dan bahkan intelegensia seseorang tdk patut dinilai hanya berdasarkan angka dari hasil ujian pilihan berganda
fuckers
*brb, nangis darah*