hey, i miss you!

hey, i miss you!

Reblog - Posted 8 months ago with 1 note
kadang-kadang ketidak tahuan kita harus ditelanjangi di depan banyak orang agar kita tahu bahwa kita tidak sepintar yang kita pikir selama ini"
— eko haridani
Reblog - Posted 10 months ago with 1 note
12 Juni

Age is just a number, yet it defines quite a lot

Indonesia bagian barat sudah meninggalkan tanggal 11 Juni, dan berada di jam-jam pertama tanggal 12 Juni. Tanggal 12 Juni punya cerita sendiri buat saya. 25 tahun yang lalu, bayi laki-laki yang dikandung di luar rencana memiliki anak lagi, lahir di sebuah desa di Tanah Karo, Seberaya. Yang mengandung adalah seorang bidan, begitu pula yang menunggu dengan cemas selama persalinan. Ya, suami istri ini adalah bidan.

Kehabisan akal untuk menamai si bayi yang baru saja lahir, pemilihan nama berakhir ala kadarnya. Dengan nama awal yang jika dibahasa indonesia kan artinya, “Hey, kamu”, ia menghirup udara pertamanya di dunia. Nama kedua tidak jelas diambil dari mana, mungkin hanya terdengar gagah saja maka diberikan. Dengan mengemban marga sang ayah, bayi itu menjadi anak terakhir yang terpaut umur 10 tahun dengan kakak tertuanya.

Tidak ada yang terlalu menarik dari anak ini, kecuali ketika di umurnya yang menginjak remaja, ia termasuk berandal paling ditakuti di desa Seberaya. Seorang bocah yang ketika berumur 12 tahun sudah membuat ibunya pingsan karena kenakalannya. Bocah yang berkali-kali kabur dari sekolah berasramanya, hingga di pelariannya yang terakhir, ia menumpang hidup dengan menjadi pelayan di restoran babi panggang milik orang tua kawannya. Ketika akhirnya ia dibawa pulang oleh sang ayah, ia dipukuli karena terlalu membangkang. Kata-kata seolah tak cukup membuatnya sadar.

Tidak ada yang bisa mengaturnya, tidak juga ayahnya. Saat umurnya menginjak 15 tahun, ia terbang ke Bandung untuk masuk SMA dan tinggal bersama abangnya yang sedang sekolah di ITB. Tidak ada perbedaan yang mencolok antara kehidupannya selama di desa dengan di Bandung. Ia tetap suka berkelahi, mencuri hisapan rokok di sela jam istirahat, dan enggan belajar.

Yang kemudian mengubahnya adalah fakta bahwa ia harus ikut ujian paket C karena tidak lulus UAN di tahun 2007. Ketika abangnya kemudian mengajarinya siang malam untuk pelajaran matematika hingga mimisan, ia tercenung sendiri, ia harus lulus ujian ini. Ketika hasil ujian paket C diumumkan, ia menjadi salah satu anak yang lulus di antara puluhan anak di sekolahnya yang juga tidak lulus UAN.

Membalas dendam atas ketidak lulusannya saat UAN, ia melahap semua buku yang bisa ditemukannya. Ia melakukannya dengan konstan, tidak ada hari yang ia lewati tanpa membaca buku. Dari situlah kritisismenya muncul, ketika ia mulai mempertanyakan banyak hal, termasuk ospek kuliah.

Di hari pertama ospek fakultas, ia menolak mentah-mentah keharusan maba mengikuti ospek. “Feodal”, begitu ungkapnya di depan podium ketika ditanya mengapa ia tidak setuju ospek. Banyak yang tercengang. Dia dianggap cari muka di hadapan maba lain, dan dianggap cari musuh di kalangan senior. Ketika IPK tahun pertamanya mencapai angka 3, ia tetap berkelahi dan dipanggil dekan setiap bulan April.

Di tahun keduanya berkuliah, ia memperkenalkan dirinya kepada saya lewat formulir pendaftaran UKM Media Parahyangan. Eko Haridani Sembiring Depari. Nama yang setelah enam bulan hadir secara konstan dalam keseharian saya. Tiga tahun kemudian, saya masih menikmati dan membenci hari-hari saya karena dia, dan bersama dia.

Selamat ulang tahun ke 25 tahun, dan selamat hari anti perburuhan anak! Aku mempercayainya sebagai pertanda, pertanda bahwa kerjamu membela buruh masih panjang, dan bahwa kamu akan lulus ujian pengacara publikmu. :)

P.S. Noir titip gonggongan dan lompatan penuh semangat ke pangkuanmu. Semoga ketika kalian bertemu, kamu tidak digigit karena dia terlalu protektif.

Reblog - Posted 10 months ago with 3 notes

blue-voids:

The Elephant Man (1980)

i’ve been waiting for this gif set to appear. this is it, the most memorable scene of “Elephant Man”

Reblog - Posted 1 year ago - via / Source with 377 notes
Tuhan Hadir di Antara Mama dan Sate

Kemarin (bukan, tepatnya dua hari yang lalu), ketika saya dan mama sedang makan sate di rumah, sebuah percakapan muncul. Tentang saya dan Tuhan, dengan mama sebagai penghubungnya.

"Kamu menyesal masuk hukum?"

Tidak terlalu menaruh perhatian saya jawab, “Tidak.”

"Mama ingat dulu kamu nangis waktu ga dapat UI." mama memandang saya cukup lama sambil memutar memori itu. Sudah empat tahun lebih. Malam itu, malam ketika saya tidak diterima di Sastra Belanda UI, malam ketika saya menangis sejadi-jadinya karena malu dan merasa bodoh, malam ketika mama memeluk saya kembali setelah sekian lama, dan malam ketika mama bersedia untuk bolos sermon di gereja untuk menemani saya.

Ya, malam itu. Empat tahun lalu. Mungkin lebih

"Kalau aku menyesal, aku udah ikut SNMPTN lagi mang, tahun 2009."

"Iya, tapi dulu kamu menyesal."

Dengan alot saya tetap membalas bahwa saya tidak menyesal, karena jika saya menyesal saya sudah cabut dari Unpar sejak tahun 2009 demi ikut SNMPTN lagi. Itupun kalau dapat. Tapi saya tahu betul apa maksud mama. Karena sebenarnya, penyesalan itu masih saya alami hingga hampir satu tahun pertama saya kuliah di Unpar.

Saya terdiam cukup lama sampai akhirnya menjawab, “Iya.”

"Kamu senang kerja di tempat kamu?"

"Iya, senang."

"Menurut kamu, kalau dulu kamu dapat UI, kamu akan kerja di tempat kerja kamu?"

Saya tercenung. Sebenarnya saya sudah sadar sejak lama bahwa dengan berkuliah di Unpar Media Parahyangan lah saya bisa seperti sekarang ini. Proses pembelajaran saya yang paling besar, saya alami ketika saya kuliah di Media Parahyangan dan ikut UKM di FH Unpar. Yang manapun itu, saya sadar betul telah berkembang cukup jauh dari saya yang dulu ketika baru lulus SMA.

Yang tidak saya sangka adalah, mama saya menyadari itu semua. Ia menyadari bahwa saya begitu menikmati masa-masa saya berkuliah di Media Parahyangan. Masa yang membuat saya enggan pulang kecuali ada hari libur nasional atau semester lebih dari tiga hari berturut-turut. Masa yang membuat saya kurang minat belajar hukum dan malah asik diskusi sok kontemplatif dengan kawan-kawan Media Parahyangan. Masa ketika saya kebanyakan mengurusi acara yang didatangi oleh orang-orang entah siapa yang belakangan saya tahu adalah orang-orang yang dikenal di masanya. Masa itu, masa yang mama saya sadari sebagai sumber kebahagiaan saya, adalah alasan baginya untuk mempercayai saya untuk memilih jalan hidup saya sendiri.

"Mama tahu kamu tidak sama dengan papa. Papa banyak mengeluh tentang pilihan-pilihanmu, terutama pilihan kerjamu."

Saya diam saja. Sambil terus melahap sate, dan menjauhkan Noir dari piring saya.

"Mama percaya Tuhan punya jalan. Waktu dulu mungkin kamu tidak mengerti kenapa Tuhan tidak izinkan kamu kuliah di UI, padahal kamu yakin kamu bisa."

Tuhan?

"Kamu mungkin tidak pernah mengerti jalan yang Tuhan kasih untuk kamu lalui. Tapi sekarang, kamu masih berharap dulu masuk UI dan bukannya Unpar?"

Saya menggeleng.

"Semua orang punya peran dan bagiannya masing-masing. Kamu kerjakan yang terbaik yang jadi bagianmu. Tanggung jawab dengan pilihan dan pekerjaanmu. Berkarya. Jangan setengah-setengah. Mama tahu kamu bisa. Tuhan itu baik, makanya Dia kasih kamu gagal masuk UI dulu."

Saya masih terus melahap sate. Saya tidak ingat kapan memikirkan Tuhan dan kebaikan-Nya, sudah terlalu lama. Saya pernah kecewa dengan para pengikut-Nya, termasuk diri saya sendiri. Saya tahu saya tidak berhak menyalahkan Tuhan, tapi saya lebih memilih menyakiti Tuhan yang sudah kuat dibanding diri saya sendiri (seperti kata Ayu Utami). Jadi saya ambil pilihan itu, mengabaikan Tuhan yang sudah abai pula dengan saya. Hanya asumsi, karena Tuhan tidak bisa saya ajak diskusi sambil menghisap kretek dan tidur-tiduran di Taman Suropati.

Malam itu Tuhan hadir. Dari mulut mama saya. Mulut yang sering saya bantah kata-katanya, mulut yang sama yang darinya keluar pembelaan terhadap saya kala papa sedang menjadikan saya bulan-bulanan di depan orang lain.

Sesederhana itu. Tuhan hadir ketika saya melahap sate sambil menghalau Noir dari piring sate saya, dan mendengarkan The Voice Indonesia yang diputar di TV. Malam itu saya lihat Tuhan dalam sosok mama.

Sate saya sudah habis, “Nanti aku jadi moderator acara kantor yang mungkin diliput media. Semoga masuk TV.”

Reblog - Posted 1 year ago with 2 notes
gotta go and see my man soon! :3

gotta go and see my man soon! :3

Reblog - Posted 2 years ago with 4 notes

Autumn Ode — Since Thinking Was Hard, Most of Us Judge

autumn ode, a post-rock / ambient / instrumental band based in Bandung, Indonesia. Formed in 2007.

@AutumnOde

Video Shoot / Ferdi Ricardo

Edit / Achmad Jauhar

Reblog - Posted 2 years ago
Jakarta Biennale 2011

Halo, beberapa hari yang lalu saya dan beberapa teman menjadi berbudaya tiba tiba, dengan kesok tahuan soal seni yang luar biasa sampah, kami menjelajahi TIM dan Galnas.

Pahlawan mati sekali, pengecut mati berkali-kali

Salam buat teman-teman SMPN 2 Sawangan terutama buat kelas VII A/ I A

Film Barbie

City

Dangdut Tripping xMegahitsx

Foto-foto yang di bawah adalah pameran yang ada di Galeri Nasional (Galnas).. Tapi saya ga inget sama sekali nama nama karya yang —dengan dangkalnya— dijadikan properti foto oleh saya dan teman teman saya.. :|

Depok Jakarta ga semembosankan itu memang, asal pintar memilih objek wisata yang mau dikunjungi.. Cuma ya itu, selain panasnya minta maaf, para lelaki di pinggir jalan itu mulutnya pada sontoloyo stadium kiamat. Ga bisa liat (segerombolan) perempuan melintas di hadapannya, karena mulutnya langsung pada gatel manggil manggil kampring semacam, “Mbak, makan dulu sini, panas loh..”, atau “Mau ke mana mbak, siang siang jalan kaki?”. Penting banget sih, ya.. Kalo gw bawa badik, udah gw letusin itu kepala laki laki gatel kurang kerjaan yang sok menarik itu..

Yasudah, event jakarta binnale kayaknya masih berlangsung sampai awal bulan januari.. Bisa dicek event nya, karena meskipun saya ga terlalu paham seni dalam media seperti apa pun kecuali literatur mungkin, saya menikmati penjelajahan pameran jakarta bienalle itu.

Reblog - Posted 2 years ago with 6 notes
Tentang Mereka dan Saya

Halo teman teman di mana pun kalian duduk dan membaca post ini, meskipun gw yakin ga ada juga yang baca post ini. KRIK. Anyway, gw baru pindah kosan dan kesulitan mengakses internet karena di kosan baru gw ga ada internet. Sebenarnya udah ga baru baru banget juga gw pindah kosan, hampir sebulan lalu, tapi toh gw belum bisa sepenuhnya merasa move on dari kehidupan di kosan lama.

Sejujurnya, gw merasa sangat keberatan sekali harus pindah dari kosan lama gw. Hampir 3 tahun gw tinggal di kosan lama gw, dan di sana jugalah gw menemukan rumah kedua gw, dengan teman teman yang nyaris 24 jam tersedia buat gw. Entah buat gw bully, gw curhatin, gw gangguin, tempat tidurnya gw tidurin, atau kamarnya sekadar gw jadikan tempat menumpang nonton, dan ga lupa untuk selalu ada untuk nemenin gw makan di Pak Moes hingga jam 04.00. Merekalah yang lantas membuat gw enggan untuk pindah, meskipun sudah harus pindah.

Di tahun tahun awal gw kuliah, gw ga berharap terlalu muluk untuk punya pertemanan yang long lasted sampai suatu hari ada teman yang mungkin bakal menjadikan atau gw jadikan maid of honor *yak.anjir.lebay.banget.lo.sumpah*, tapi toh ketika bertemu Irene Renata, Vebby Vretania, Jenny Rina, Tetty Marlina, Sry Stevanie, Kiki Rezkiani, dan teman teman yang lain, gw merasa mungkin, gw akan punya atau dijadikan lebih dari satu maid of honor. Ga, gw ga pernah nangis sambil curhat di jam 02.45 soal eko, atau pergi ke salon tiap sebulan sekali, yang mana memang ga pernah salah satu dari anak kosan lama gw yang serutin itu ke salon TERUTAMA gw, tapi di saat gw ga melakukan hal hal tadi, gw mampu mengurai waktu dari jam 20.00 sampai jam 03.45 dengan omegle an sambil melihat penis yang menggelayut dengan bebas nyaris di setiap chat, atau memerdebatkan soal ada atau tidaknya kodrat manusia, atau membicarakan soal keadaan kampus apakah perlu diguncang dengan tarian telanjang di depan sekre URS, atau sekadar cerita ngalor ngidul tentang lagu galau apa paling happening yang akan berakhir dengan sesi curhat penuh tangis bagi kaum labil yang baru ditinggal pacar.

Selalu. Sesimpel itu, dengan kontinuitas yang juga tinggi. Ketika keseharian selama dua tahun lebih itu diambil secara tiba tiba, gw merasa hampa. Hahahaha.. Serius deh, bahkan waktu gw memindahkan barang untuk terakhir kalinya dari kosan gw yang lama, gw nyaris, dan yang gw maksud dengan nyaris adalah, nyaris banget menangis di dalam mobil Fella, karena Fanny dan Kiki juga sudah mulai sesenggukan ketika gw memeluk mereka bukan untuk yang terakhir kalinya. Sampai ketika gw menulis post ini, gw masih berharap ketika gw kembali ke kosan baru gw, mereka akan ada untuk nyamperin gw di kamar dan mengajak makan bareng di racun. Atau sesimpel menanyakan gw baru pulang dari mana, yang akan diakhiri dengan curhat goblok soal apakah penjaga kosan lama gw harus dikerjain apa ga. Selalu. Bagian inilah yang kemudian tidak hendak gw cari di mana pun gw berada, atau tinggal, atau beraktivitas. Karena setiap mereka adalah signifikan.

Mungkin benar kata Goenawan Mohammad, Siang itu seperti pagi, selalu berganti, tapi mempunyai maknanya sendiri. Akhirnya gw hanya bisa bersyukur sekaligus mengutuk, bahwa ketika nanti gw menyusun skripsi gw, mereka tidak akan selalu ada untuk menemani atau malah mengganggu gw. Sama seperti gw tidak ada untuk Kairen dan Kalala ketika mereka berjibaku dengan skripsinya.

I write this as an ode, to the greatest friend back in dorm; sometimes we just couldn’t get and have what we really wanted, but the best yet also the worst is, at least, we had it.

pahlawan bertopeng. ehem.

Late night stupidity

Just another dumb shot of us. Of me, actually.

HEHEH

Reblog - Posted 2 years ago with 1 note