Age is just a number, yet it defines quite a lot
Indonesia bagian barat sudah meninggalkan tanggal 11 Juni, dan berada di jam-jam pertama tanggal 12 Juni. Tanggal 12 Juni punya cerita sendiri buat saya. 25 tahun yang lalu, bayi laki-laki yang dikandung di luar rencana memiliki anak lagi, lahir di sebuah desa di Tanah Karo, Seberaya. Yang mengandung adalah seorang bidan, begitu pula yang menunggu dengan cemas selama persalinan. Ya, suami istri ini adalah bidan.
Kehabisan akal untuk menamai si bayi yang baru saja lahir, pemilihan nama berakhir ala kadarnya. Dengan nama awal yang jika dibahasa indonesia kan artinya, “Hey, kamu”, ia menghirup udara pertamanya di dunia. Nama kedua tidak jelas diambil dari mana, mungkin hanya terdengar gagah saja maka diberikan. Dengan mengemban marga sang ayah, bayi itu menjadi anak terakhir yang terpaut umur 10 tahun dengan kakak tertuanya.
Tidak ada yang terlalu menarik dari anak ini, kecuali ketika di umurnya yang menginjak remaja, ia termasuk berandal paling ditakuti di desa Seberaya. Seorang bocah yang ketika berumur 12 tahun sudah membuat ibunya pingsan karena kenakalannya. Bocah yang berkali-kali kabur dari sekolah berasramanya, hingga di pelariannya yang terakhir, ia menumpang hidup dengan menjadi pelayan di restoran babi panggang milik orang tua kawannya. Ketika akhirnya ia dibawa pulang oleh sang ayah, ia dipukuli karena terlalu membangkang. Kata-kata seolah tak cukup membuatnya sadar.
Tidak ada yang bisa mengaturnya, tidak juga ayahnya. Saat umurnya menginjak 15 tahun, ia terbang ke Bandung untuk masuk SMA dan tinggal bersama abangnya yang sedang sekolah di ITB. Tidak ada perbedaan yang mencolok antara kehidupannya selama di desa dengan di Bandung. Ia tetap suka berkelahi, mencuri hisapan rokok di sela jam istirahat, dan enggan belajar.
Yang kemudian mengubahnya adalah fakta bahwa ia harus ikut ujian paket C karena tidak lulus UAN di tahun 2007. Ketika abangnya kemudian mengajarinya siang malam untuk pelajaran matematika hingga mimisan, ia tercenung sendiri, ia harus lulus ujian ini. Ketika hasil ujian paket C diumumkan, ia menjadi salah satu anak yang lulus di antara puluhan anak di sekolahnya yang juga tidak lulus UAN.
Membalas dendam atas ketidak lulusannya saat UAN, ia melahap semua buku yang bisa ditemukannya. Ia melakukannya dengan konstan, tidak ada hari yang ia lewati tanpa membaca buku. Dari situlah kritisismenya muncul, ketika ia mulai mempertanyakan banyak hal, termasuk ospek kuliah.
Di hari pertama ospek fakultas, ia menolak mentah-mentah keharusan maba mengikuti ospek. “Feodal”, begitu ungkapnya di depan podium ketika ditanya mengapa ia tidak setuju ospek. Banyak yang tercengang. Dia dianggap cari muka di hadapan maba lain, dan dianggap cari musuh di kalangan senior. Ketika IPK tahun pertamanya mencapai angka 3, ia tetap berkelahi dan dipanggil dekan setiap bulan April.
Di tahun keduanya berkuliah, ia memperkenalkan dirinya kepada saya lewat formulir pendaftaran UKM Media Parahyangan. Eko Haridani Sembiring Depari. Nama yang setelah enam bulan hadir secara konstan dalam keseharian saya. Tiga tahun kemudian, saya masih menikmati dan membenci hari-hari saya karena dia, dan bersama dia.
Selamat ulang tahun ke 25 tahun, dan selamat hari anti perburuhan anak! Aku mempercayainya sebagai pertanda, pertanda bahwa kerjamu membela buruh masih panjang, dan bahwa kamu akan lulus ujian pengacara publikmu. :)
P.S. Noir titip gonggongan dan lompatan penuh semangat ke pangkuanmu. Semoga ketika kalian bertemu, kamu tidak digigit karena dia terlalu protektif.
















