20-nothing, messy and spontaneous. i live my life as i wish
January 3rd
4:03 PM

Politik Tubuh, Politik Kuasa

Perhatikan informasi di sekitar kita bagaimana tubuh perempuan masih dianggap misteri karena seksualitas dan reproduksinya, dan berkembang menjadi mitos-mitos baik kecantikannya, seksualitasnya, mulai dari keperawanan, menstruasi, kehamilan, dan emosinya. Mitos-mitos tersebut bahkan berkembang dalam mistik, hantu-hantu dalam film-film kita sering memasukkan kata “perawan”, dan ciri keperempuanan pada hantu-hantu yaitu berambut panjang, berwajah cantik dan sebagainya. Atau perhatikan syair-syair puisi maupun lagu, perempuan masih sering diekspresikan sebagai mahluk yang misterius, tidak terduga perasaannya, mahluk emosional yang tidak dapat diajak diskusi dan berpikir.

Tentang apakah semua ini?

Apalagi kalau bukan soal tubuh perempuan. Dalam tradisi, baik secara kultural maupun struktural, tubuh perempuan masih dianggap sebagai “sesuatu yang lain” dipertanyakan terus menerus keberadaannya.

Keruwetan ini berawal dari “persepsi tubuh perempuan adalah bukan persepsi perempuan itu sendiri”, tubuh perempuan menjadi milik pihak lain, celakanya untuk distigmatisasi, mulai ayat-ayat suci, sampai pornografi. Selain bukan milik perempuan sendiri, tubuh perempuan bukan semata-mata menjadi persoalan pribadi, kamar mandi, ruang tidur, dan ruang ganti pakaian. Tubuh perempuan adalah politik dalam permainan kehidupan, dalam aturan-aturan moral dan agama. Tubuh perempuan tidak diperkenankan membahas soal otonomi. Dengan kata lain, tubuh perempuan tidak diperbolehkan diterjemahkan sendiri oleh pemiliknya, yaitu PEREMPUAN.

Kehidupan selama berabad-abad telah terlanjur diterjemahkan secara tunggal oleh persepsi laki-laki. Media dan informasi serta produk-produk hukum di abad 21 ini pun, masih saja menggelar mitos-mitos tubuh perempuan dan laku dikonsumsi masyarakat. Masih bisa kita temukan peraturan daerah yang mengeluarkan kebijakan memeriksa keperawanan siswi demi menjawab persoalan moral. Tidak peduli bahkan secara sains, jelas bahwa keperawanan bukan sesuatu yang bisa diukur secara fisik (apalagi moral?).

Merry Magdalena seorang mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan menulis dalam beberapa catatan studi tentang keperawanan bahwa dokter sekalipun tidak bisa membuktikan keperawanan perempuan. “Walau dengan menggunakan magnifikasi 10 kali lipat, dokter tidak bisa menduga secara akurat beda antara perawan dan tidak.” Menurutnya tes keperawanan tidak sesederhana melihat lubang di dalam hymen, sebab memang faktanya akan selalu ada lubang itu, walau pada perawan dan tidak.

Hal yang sama diungkapkan Dr. Rachel Vreeman dari Indiana University and Carroll, salah satu penulis buku “Don’t Swallow Your Gum” mengatakan, pada kasus dimana darah menstruasi terbentuk, segel itu bisa saja terbuka, atau adanya problem medis lain.

Begitupula mitos soal perempuan yang menoupase dianggap membuat gairah seks padam. Anggapan ini dibantah dengan survei yang dilakukan pada tahun 1994, yang membuktikan bahwa setengah dari perempuan usia 50-an tetap aktif melakukan hubungan seks beberapa kali sebulan. Gangguan hormonal saat menoupase memang kadang membuat perempuan tidak mood, tapi itu bukan alasan langsung yang memadamkan gairah seks mereka.

Masih banyak mitos-mitos lain tentang tubuh perempuan yang terus menerus disuarakan, seperti pinggul yang besar dianggap sering berhubungan seks atau calon punya anak banyak. Seringkali persepsi tentang tubuh perempuan itu sendiri tidak atas konfirmasi si pemilik tubuh yaitu perempuan, melainkan oleh pria. Perempuan sendiri sering termakan oleh mitos-mitos atas tubuhnya dan tidak mencoba menceritakan pengalaman tubuhnya sendiri karena ruang itu sudah begitu tertutup bagi mereka.

Kiai Husein Muhammad mengatakan, bahkan menerjemahkan tubuh perempuan masyarakat seringkali menggunakan agama. Padahal menurutnya, dalam agama sulit ditemukan aturan bagaimana perempuan diperbolehkan mengatur tubuhnya sendiri. Apalagi bicara soal hak otonom atas tubuh. Menurutnya, sejarah tradisi dan agama adalah sejarah politik. Semua dimaknai oleh kepentingan-kepentingan politik. Bahwa dalam hubungan laki-laki dan perempuan, maka kekuasaan politik ada di tangan laki-laki.

Pornografi Dipenuhi Mitos Tubuh Perempuan

Jurnal Perempuan edisi 38 mengangkat tema tubuh perempuan dalam pornografi dengan sudut pandang feminis, sangat berbeda menjelaskan pornografi secara umumnya. Bicara soal pornografi feminisme mencoba mengurai “kepentingan perempuan” atas tubuhnya, yang tidak sedangkal pembicaraan soal moral (baik-buruk).

Andrea Dworkin mengurai pornografi sebagai pertaruhan tubuh perempuan untuk ditempatkan serendah-rendahnya dalam aktivitas seksual. Menurutnya, perendahan tubuh perempuan itu dimulai dari kultur perkosaan, dengan kata lain: dominasi (penguasaan/penundukkan) laki-laki atas tubuh perempuan sebagai ukuran kejantanan. Demi mitos kejantanan, pria perlu memperlakukan perempuan serendah-rendahnya. Berikut menurutnya:

Pornografi menyebarkan bahwa perempuan itu pelacur. Perempuan dalam pornografia dalah perempuan yang laki-laki inginkan. Pornografi menunjukkan bagian-bagian tubuh perempuan, sebagai genital, sebagai celah-lubang-belahan vagina, sebagai puting-puting susu, sebagai bokong-pantat, sebagai bibir, sebagai luka, sebagai potongan-potongan. Pornografi menggunakan perempuan yang nyata (uses real women).

Sementara Wendy McElroy, melawan penindasan tubuh perempuan dalam materi pornografi dengan cara lain. Menurutnya perempuan perlu membuat materi pornografi (tentu saja untuk orang dewasa) yang menguntungkan perempuan baik secara personal maupun politik. “Is not that every woman should read or watch pornography. It is tahat every woman should decide for herself,” katanya.

Pembicaraan tentang persepsi tubuh perempuan dalam materi pornografi ini kemudian berkembang menjadi masalah pemerkosaan sepanjang sejarah manusia. Susan Brownmiller dalam buku Against Our Will, menemukan bahwa sejarah tidak terhindari dari sejarah pemerkosaan perempuan. Ia memberi contoh bagaimana sejarah masa Neanderthal, laki-laki menggunakan penis mereka sebagai senjata untuk melakukan fungsi teror ketika menguasai berbagai negara. Menurutnya pemerkosaan adalah bukan seks secara biologi, melainkan seks yang terbentuk dari persepsi kekuasaan atas tubuh perempuan.

Apa yang perlu dilakukan?

Kata kunci feminisme dalam menolak kekerasan atas tubuh perempuan baik melalui mitos, stigmatisasi maupun tindakan seksual adalah dengan menyuarakan tubuh perempuan melalui pembuktian sains, pendidikan, dan penciptaan. Perempuan perlu terus menerus menceritakan pengalaman tubuhnya sebagai wacana umum sehingga anggapan negatif tentang tubuh perempuan yang beredar di masyarakat maupun media akan gugur dengan sendirinya.

Helene Cixous, seorang feminis Prancis tidak pernah bosan mengatakan “write your body, your body must be heard”, memotivasi penulis-penulis perempuan untuk dengan leluasa menceritakan kehidupan yang hanya dialami perempuan untuk menjawab kesalahan-kesalahan persepsi pada tubuh perempun. Demkian juga Virginia Woolf, seorang novelis feminis menggaris bawahi dal karya-karyanya tentang persoalan tubuh perempuan dengan mengatakan:

Perempuan menggambarkan tubuhnya merupakan suatu keputusan perempuan, tetapi ingat bahwa hal itu digunakan untuk mejelaskan pikiran perempuan, dimana seorang perempuan tidak merasa paling suci, tidak juga merasa takut atau hina atas tubuhnya baik dalam hal psikologis maupun seksnya.

Mariana Amiruddin
Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan

(link asli)

  1. salitaromarin reblogged this from lolakaban
  2. lolakaban posted this