Tentang Belajar

Ini bulan keenam saya bekerja. Beberapa menganggap saya beruntung, belum lagi wisuda, sudah bisa bekerja. Perkenalkan, saya lola, lulusan fh unpar yang sekarang jadi asisten peneliti divisi hukum, tapi tidak tahu apa apa soal hukum.

Bingung? Saya juga. Ketika banyak orang mengharapkan bisa langsung bekerja selepas lulus, saya justru gamang padahal baru bekerja kurang dari satu tahun di kantor saya.

Ketidak pahaman saya soal hukum, membuat saya terlunta lunta. Sungguh, saya tidak melebih lebihkan. Saya lantas berpikir, salahkah saya selama kuliah tidak berusaha lebih keras untuk belajar hukum hukum positif indonesia?

Mungkin salah, mungkin juga tidak.

Tapi saya jelas tidak boleh menyesal. Segala yang saya lakukan ketika masih kuliah adalah pilihan yang secara sadar saya lakukan. Memilih untuk tidak belajar, dan malah diskusi sok kontemplatif soal eksistensialisme. Mencuri baca terjemahan The Second Sex di kelas hukum kompetisi. Atau sekadar menulis ulang kutipan Angela Davis di tumblr saya.

Saat saya bertemu dosen pembimbing saya tak lama setelah saya bekerja, ia bersyukur saya bisa bekerja di tempat saya bekerja sekarang.

“Kamu harus banyak belajar dari FD dan EY. Mereka cerdas dan akan banyak membantu kamu.”

Saya tercenung. Saya memang berada di bawah bimbingan kedua orang itu. Saya memang banyak belajar dari mereka. Beruntungkah saya?

Ya

Ketika saya memutar kembali betapa saya hampir selalu membenci pendidikan hukum yang saya terima di masa kuliah dulu, saya justru harus berhadapan dengannya sepanjang hari, 5 hari seminggu. Kalau mau dinilai, saya harus jujur bahwa perkembangan saya lambat, terutama karena minimnya pengetahuan dasar saya tentang hukum.

Seorang sarjana hukum yang kuliah selama 4 setengah tahun, dan masih kepayahan menganalisis kasus dengan logika berpikir hukum. Memalukan benar.

Tapi mungkin ini adalah jalan bagi saya untuk belajar mengenal ilmu hukum yang saya benci. Dengan segala kerigidan dan kesaklekannya, saya harus mencernanya pelan pelan. Bukan asal telan, lalu dibuang lewat proses ekskresi.

“Kamu bantu Mas A riset, ya.”

Untuk kesekian kalinya, yang membuat saya yakin bahwa saya mampu adalah orang lain. Orang yang tulisannya sudah jadi rujukan penulisan hukum entah berapa banyak mahasiswa, orang yang setiap saat dimintai pendapat soal banyak kasus korupsi, orang yang sama yang pernah saya hindari ketika mangkir mengumpulkan legal anotasi dua bulan lalu.

Percayalah, bagi kita, waktu belajar belum lagi habis.

:)

Last Shadow Puppets - Standing Next to Me

(Source: vimeo.com)

lacigreen:

uhhhh yay sizeism & sexism?  two more reasons not to shop at abercrombie and fitch. (x)

lacigreen:

uhhhh yay sizeism & sexism?  two more reasons not to shop at abercrombie and fitch. (x)

4gifs:

How 1.3 billion Chinese will save the world

4gifs:

How 1.3 billion Chinese will save the world

fuckyeahmarxismleninism:

May Day 2013 - Jakarta, Indonesia
Transgender workers join the massive May Day march through the Indonesian capital, May 1, 2013.

fuckyeahmarxismleninism:

May Day 2013 - Jakarta, Indonesia

Transgender workers join the massive May Day march through the Indonesian capital, May 1, 2013.

rarasekar:

Tak lama lagi.

(Gerbong) Perempuan

Bulan ini adalah bulan keempat saya menjadi pelanggan tetap kereta commuter. Setiap jam 08.20 naik commuter keberangkatan stasiun depok lama, dan sekitar pukul 19.00 pulang lagi dengan commuter. Saya selalu naik gerbong perempuan, kecuali kepepet, saya akan menyusup di gerbong campur.

Kesukaan saya berada di gerbong perempuan, sebesar kebencian saya berada di gerbong perempuan. Percaya atau tidak, kelakuan perempuan-perempuan di gerbong perempuan itu lebih keras daripada para pria dan perempuan di gerbong campur. Saya juga tidak tahu kenapa.

Tidak terhitung berapa kali tangan saya tercakar atau tergores atau lebam tanpa saya ingat pernah bersentuhan dengan benda keras atau tajam di dalam kereta. Saya hanya ingat dihempaskan ke belakang oleh gerombolan perempuan yang turun di stasiun tanjung barat, dan beberapa perempuan yang berpacu dengan waktu akan menarik bahu atau lengan saya kuat-kuat. Mungkin karena itu. Mungkin juga bukan.

Lucunya, saya tidak terganggu karenanya. Gerbong perempuan itu adalah dunia dalam sebuah ruang kecil. Saya membenci ibu ibu yang duduk dengan sotoynya di bangku lipat saat kereta penuh, tapi saya menyukai kesigapan para perempuan yang saling oper tas untuk ditaruh atau diambil di kabin atas. Saya membenci ibu ibu yang bergerombol sambil mengobrol dan tanpa sadar mengambil ruang yang lebih besar, tapi saya menyukai kesigapan perempuan perempuan dalam gerbong dalam merespon kemalangan perempuan lainnya.

Saya membenci tusukan menyakitkan di bahu saya dari perempuan yang mau turun di belakang saya, tapi saya menyukai bantuan identifikasi stasiun yang sering diberikan tanpa diminta kepada para pengguna kereta baru atau yang hilang hitungan.

Dalam gerbong perempuan, saya belajar menahan diri untuk tidak merespon berlebihan mbak mbak kantor yang muntah persis di depan saya. Saya belajar untuk membantu sebisa saya, memberikan tisu kering banyak banyak, dan melawan rasa jijik saya untuk bilang padanya, “Kalau sakit jangan malu.”

Dalam gerbong perempuan, saya belajar untuk tidak melulu mendengarkan musik dengan volume bingar di earphone, terutama kalau ketibanan ibu hamil yang pingsan di stasiun pondok cina. Saya belajar untuk tidak mutung karena karet earphone saya jatuh dan hilang saat berusaha membopong ibu hamil yang pingsan itu.

Dalam gerbong perempuan, saya belajar untuk bersekutu dengan perempuan perempuan lain. Ketika kereta ekonomi mogok di stasiun pasar minggu dan penumpang laki-lakinya dengan brutal memaksa masuk gerbong perempuan yang menyebabkan pintu otomatisnya macet, saya dan perempuan perempuan lainnya mengomeli bapak bapak tadi dan menyuruh mereka turun di stasiun terdekat. Bagian ini tidak terlalu baik sebenarnya, tapi sayabisa melihat bahwa keberadaan laki-laki tanpa konsensus dalam gerbong perempuan itu tidak bisa dikompromikan. Apalagi kalau sampai membuat pintu otomatis macet. Luar biasa perlawanannya.

Saya tidak bisa dan tidak mau menyimpulkan apa apa tentang perempuan perempuan di gerbong perempuan. Perempuan-perempuan gerbong perempuan (termasuk saya), adalah sekumpulan manusia perempuan yang luar biasa gigih (terutama dalam hal masuk kereta dan rebutan tempat duduk), dan enggan kompromi dengan ketidaknyamanan (laki-laki salah gerbong akan diarak ke luar gerbong jika membandel).

Ah, tulisan ini bukti dari kekakuan saya menulis. Sudah hampir dua bulan dari tulisan panjang terakhir saya. Sudah terlalu kering, jadi sulit menulis rasa.

Terima kasih bagi yang sudah mau baca. Jika tidak, tidak rugi juga.

Tupperware

mbak r: dulu aku dapet tupperware karena berhasil kasih asi eksklusif selama tiga bulan
teman o: ih, aku mau ah nanti.. kalo si H ga mau nikah, tapi mau punya anak aja..
lola: kalo aku mau tupperware nya aja, boleh?
forum: kovlok!

pertama kalinya nyerempet mobil harrier punya orang Polisi Militer, kaki kejepit di antara bumper mobil dan motor, berhasil lompat membebaskan kaki dari himpitan. oh, dan sedang pakai rok bahan. dan motornya tinggi (?). saya yang dibonceng

i’m so proud of myself :’)